by

Saladin Camp: Upaya Mengubah Arah Sejarah

Lebih dari Sekadar Reaksi

Setiap kali Gaza dibombardir atau Masjid Al-Aqsho kembali menjadi berita, kita bergerak. Donasi dibuka. Demonstrasi digelar. Poster berseliweran di media sosial. Doa-doa dibaca.

Semua itu penting. Bahkan perlu.

Masalahnya, apa yang terjadi setelah itu?

Ketika berita mulai sepi, perhatian kita ikut surut. Donasi berhenti. Poster tenggelam. Massa pulang. Kita kembali pada pekerjaan masing-masing, lalu menunggu tragedi berikutnya untuk kembali merasa terlibat.

Di situlah persoalannya.

Umat Islam bukan kekurangan jumlah manusia. Kita juga bukan umat tanpa uang, kampus, perusahaan, organisasi, masjid, atau orang-orang pintar. Yang sering hilang justru hubungan antara semua kekuatan itu. Energi kita besar, tetapi terpencar. Kita mudah bergerak ketika marah, tetapi belum selalu tahu ke mana harus berjalan setelah kemarahan itu reda.

Pembebasan Baitul Maqdis tidak bisa hidup dari ledakan emosi saja. Visi tersebut membutuhkan arah.

Di sinilah Gerakan Ummah, Saladin Camp, dan Ummah International mencoba menawarkan sesuatu yang berbeda: bukan sekadar mengajak umat peduli, tetapi mengubah kepedulian menjadi ilmu, strategi, jaringan, dan kerja jangka panjang.

Penjajahan yang Tak Terlihat

Ada tanah yang dijajah. Ada pula pikiran yang dijajah.

Prof. Abd al-Fattah El-Awaisi menggunakan beberapa istilah yang tegas untuk menggambarkan persoalan umat: Nakbah Ma’rifiyah (malapetaka ilmu), Ihtilal Aqal (penjajahan akal), dan Al-Ubudiyah Al-Fikriyah (perbudakan pemikiran).

Masalahnya bukan sekadar kita tidak tahu. Kadang kita bahkan tidak sadar bahwa cara kita melihat masalah pembebasan Masjid Al-Aqsho sudah dibentuk oleh kerangka bikinan penjajah zionis yahudi israel dan USA.

Karena itu muncul satu prinsip penting: pembebasan akal harus mendahului pembebasan tanah/negeri.

Kalimat ini bukan alasan untuk berhenti menolong Gaza Palestina. Bukan pula alasan untuk meninggalkan donasi atau aksi publik. Justru sebaliknya. Semua itu perlu ditempatkan dalam rencana yang lebih besar.

Emosi membuat kita bangkit. Ilmu membuat kita tidak tersesat.

Allah berfirman bahwa Dia tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri (QS. Ar-Ra’d: 11). Perubahan besar, dengan demikian, tidak dimulai di tingkah polah. Tetapi dimulai di kepala manusia.

Ketidaktahuan harus menjadi ilmu. Ilmu harus menjadi ma’rifah. Dan ma’rifah harus melahirkan keputusan.

Saladin Camp: Dari Marah Menjadi Paham

Saladin Camp berdiri pada kebutuhan itu.

Dauroh tersebut bukan tempat untuk menambah kemarahan. Kita sudah cukup punya alasan untuk marah. Yang dibutuhkan adalah kemampuan membaca masalah dengan lebih utuh.

Dalam kerangka persiapan, terdapat tiga wilayah besar: I’dad Ma’rifi (persiapan ilmu), I’dad Siyasi (persiapan politik), dan I’dad Askari (persiapan militer). Namun semuanya tidak berdiri sejajar sejak awal. Persiapan ilmu menjadi fondasi.

Sebab tanpa ilmu, strategi berubah menjadi tebakan. Politik berubah menjadi reaksi. Kekuatan berubah menjadi kekacauan.

Sejarah Islam memberi pelajaran menarik. Menjelang wafatnya, Rasulullah Muhammad ﷺ telah menyiapkan ekspedisi yang dipimpin Usamah bin Zaid. Ketika beliau wafat, Madinah berada dalam keadaan genting. Sebagian kabilah memberontak. Ancaman datang dari banyak arah.

Abu Bakar bisa saja membatalkan ekspedisi itu.

Beliau tidak melakukannya.

Rencana yang telah dibangun Rasulullah ﷺ tetap dijalankan. Sesudah itu, langkah menuju Syam terus berkembang hingga pada masa Umar bin Al-Khottob, Baitul Maqdis masuk ke dalam pemerintahan Islam.

Ada pola di sini: kemenangan tidak lahir dari satu malam yang heroik. Kemenangan lahir dari rangkaian keputusan, barisan manusia, kesiapan ilmu, dan panjangnya kesabaran.

Hal yang sama terlihat berabad-abad kemudian. Sholahuddin Al-Ayyubi memang menjadi nama yang dikenang ketika Baitul Maqdis dibebaskan pada 1187. Tetapi beliau tidak muncul dari ruang kosong. Sebelumnya ada Imaduddin Zanki. Ada Nuruddin Zanki. Ada ulama, sekolah, pasukan mujahidin, birokrasi, dan masyarakat yang dibentuk selama puluhan tahun.

Orang sering mengingat sang pembebas.

Sejarah, sayangnya, jarang memberi cukup perhatian kepada mereka yang menyiapkan zamannya.

Membaca Peta, Bukan Sekadar Berita

Saladin Camp juga memperkenalkan cara membaca kawasan melalui Teori Lingkaran Keberkahan. Baitul Maqdis ditempatkan sebagai pusat. Di sekelilingnya terdapat kawasan-kawasan strategis seperti Syam, Mesir, dan Siprus, lalu wilayah yang lebih luas seperti Hijaz, Irak, Turki, serta kawasan Muslim lainnya.

Di mana posisi Indonesia?

Kita memang jauh dari pusat konflik. Tetapi jauhnya jarak tidak otomatis membuat kita tidak penting. Justru Indonesia memiliki ruang besar untuk I’dad Ma’rifi: penelitian, pendidikan, penerbitan, pengembangan kader, penguasaan bahasa, pembangunan jaringan, dan produksi gagasan.

Tidak semua orang harus berada di garis depan.

Tetapi semua orang bisa membantu memastikan garis depan tidak berdiri sendirian.

Ada satu pertanyaan lain yang juga sering terlupakan: “Jika suatu hari Baitul Maqdis bebas, lalu apa?”

Kemenangan bukan izin untuk membalas dendam.

Tradisi Islam memberi contoh melalui Uhdah Umariyyah, perjanjian yang dikaitkan dengan Umar bin Al-Khottob ketika Baitul Maqdis berada di bawah pemerintahan Muslim. Di sana kita menemukan gambaran tentang perlindungan jiwa, harta, tempat ibadah, dan kehidupan masyarakat yang majemuk.

Inilah mengapa pembicaraan tentang pembebasan tidak boleh berhenti pada cara memenangkan konflik. Kita juga harus membicarakan dunia seperti apa yang ingin dibangun setelah kemenangan diraih.

Dari Saladin Camp Menuju Ekosistem Ummah

Masalah sebuah seminar sederhana: orang datang, terinspirasi, berfoto, lalu pulang.

Beberapa hari kemudian, rutinitas berputar seperti biasa.

Karena itu, pendidikan membutuhkan ekosistem. Saladin Camp menyediakan pintu masuk keilmuannya. Gerakan Ummah dan Ummah International mencoba membawa proses itu lebih jauh: mempertemukan orang, profesi, modal, gagasan, dan proyek dalam perjalanan yang lebih panjang.

Salah satu gagasannya adalah pembentukan Amin Al-Ummah: manusia yang memiliki fondasi Qur’ani dan Nabawi, mampu berpikir strategis, menguasai bahasa asing, memiliki kapasitas kepemimpinan, menjaga kesehatan, dan sanggup menjadi teladan.

Di sini perjuangan tidak lagi berarti semua orang harus menjadi aktivis dalam bentuk yang sama.

Seorang pengusaha berjuang melalui bisnis yang sehat dan kekuatan ekonomi. Akademisi melalui penelitian dan gagasan. Guru melalui pendidikan murid-muridnya. Programmer melalui aplikasi yang dia bangun. Setiap profesional melalui keahliannya masing-masing.

Profesinya tetap. Tetapi arah hidupnya berubah.

Allah berfirman, “Hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok” (QS. Al-Hasyr: 18). Ada pesan yang sangat sederhana di sana: orang beriman harus berpikir tentang masa depan.

Bukan hanya bereaksi terhadap hari ini.

Kita Mau Menjadi Apa dalam Sejarah?

Baitul Maqdis tidak kekurangan orang yang sedih melihat penderitaan Gaza Palestina. Yang dibutuhkan adalah semakin banyak manusia yang mengubah kesedihan itu menjadi kesiapan.

Donasi tetap perlu. Demonstrasi tetap punya tempat. Doa tetap menjadi senjata seorang mukmin.

Tetapi semuanya perlu dilanjutkan dengan membaca, belajar, membangun bisnis, menyiapkan generasi, memperkuat lembaga, menguasai bahasa asing, membuat riset, dan mempertemukan orang-orang yang memiliki keahlian berbeda.

Saladin Camp menawarkan jalur pendidikannya. Gerakan Ummah menyatukan manusianya. Ummah International berusaha membangun ruang agar ilmu itu dapat berubah menjadi gerakan umat yang terus hidup.

Mungkin kita memang tinggal ribuan kilometer dari Baitul Maqdis.

Tetapi sejarah tidak pernah bertanya seberapa jauh rumah kita dari medan perjuangan.

Sejarah akan bertanya sesuatu yang lebih sederhana:

“Apa yang kita siapkan ketika kesempatan untuk mengambil peran itu datang?”

Write a Comment

Comment