Duo Palestina
Ada masa ketika Indonesia belum memiliki banyak uang, senjata, dan kawan. Republik baru lahir. Belanda datang kembali membawa serdadu dan propaganda. Dunia belum yakin apakah bangsa bernama Indonesia sanggup bertahan.
Pada masa itu, bantuan datang dari tempat yang jauh: Palestina.
Dua orang Palestina berdiri di belakang Indonesia. Syekh Muhammad Amin al-Husaini menggunakan pengaruh politiknya. Muhammad Ali Taher menggunakan jaringan, media, rumah, dan tabungannya.
Mereka tidak lahir di Jawa. Tidak pernah menikmati sawah Sumatra. Tidak punya rumah di Maluku. Namun, keduanya memahami satu hal: penjajahan terhadap satu bangsa merupakan luka bagi seluruh manusia.
Inilah bentuk nyata firman Allah:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”
(QS. Al-Hujurat: 10)
Suara Palestina untuk Indonesia
Pada September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ucapan selamat Syekh Muhammad Amin al-Husaini berkaitan dengan janji kemerdekaan Indonesia. Berita itu kemudian beredar di lingkungan masyarakat Arab dan membantu membuka perhatian dunia Islam terhadap perjuangan Indonesia.
Peristiwa tersebut perlu dibaca dengan hati-hati. Palestina saat itu belum menjadi negara berdaulat. Karena itu, tindakan al-Husaini lebih tepat disebut dukungan politik dan moral, bukan pengakuan resmi antarnegara. Namun, suara tersebut tetap berarti. Indonesia yang belum merdeka telah disebut di ruang publik Arab sebagai bangsa yang berhak menentukan nasibnya.
Al-Husaini kemudian berada dalam lingkungan tokoh Arab yang diminta membantu lobi menjelang pembahasan Indonesia di Liga Arab. Perannya bukan satu-satunya. Aktivis Indonesia di Kairo, pers Arab, Muhammad Ali Taher, dan para pejabat Liga Arab juga bekerja. Sejarah memang jarang digerakkan oleh satu manusia.
Peran tersebut juga tidak menghapus kontroversi politik al-Husaini pada masa Perang Dunia II. Sejarah harus disampaikan tanpa pemujaan buta. Namun, ketelitian tidak boleh berubah menjadi alasan untuk menghapus bantuan yang benar-benar diberikan.
Uang yang Tidak Meminta Kuitansi
Jika al-Husaini menyumbangkan pengaruh, Muhammad Ali Taher memberikan sesuatu yang lebih mudah dihitung, tetapi sulit ditiru: hartanya.
Saudagar, jurnalis, dan pejuang Palestina asal Nablus tersebut menjadikan kediaman sekaligus kantor medianya di Kairo sebagai tempat berkumpul para aktivis bangsa terjajah. Pintu rumahnya terbuka bagi diplomat Indonesia yang sedang menembus blokade informasi Belanda.
Pada Desember 1948, Agresi Militer Belanda II menghantam Yogyakarta. Pemerintah Indonesia terdesak. Perwakilan Indonesia di luar negeri juga menghadapi kekurangan dana.
Dalam keadaan itulah Muhammad Ali Taher menemui diplomat Indonesia, Muhammad Zein Hassan. Seluruh simpanannya di Bank Arabia dicairkan dan diserahkan untuk perjuangan Republik Indonesia.
Ketika ditawari kuitansi sebagai bukti utang, Taher menolak.
Tidak ada bunga. Tidak ada jabatan. Tidak ada konsesi tambang. Tidak ada proyek balasan.
Taher memberikan harta karena menganggap Indonesia sebagai saudara yang sedang dikepung.
Perbuatan tersebut mengingatkan pada kaum Anshor yang menolong kaum Muhajirin. Allah memuji mereka karena mengutamakan saudaranya, sekalipun diri sendiri berada dalam kesulitan.
“Mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka juga memerlukan.”
(QS. Al-Hasyr: 9)
Ketika Anak Negeri Merampok Negeri Sendiri
Delapan puluh tahun kemudian, keadaan berbalik.
Dahulu, orang Palestina menguras tabungan untuk menjaga Republik Indonesia. Pada 2026, sebagian pejabat Indonesia justru dengan culas menguras uang Republik Indonesia.
Perkara pengadaan Chromebook memperlihatkan bagaimana proyek digitalisasi pendidikan dapat berubah menjadi arena dugaan monopoli dan penggelembungan harga. Perkara tata kelola minyak mentah dan produk kilang Pertamina memperlihatkan betapa sektor yang menyangkut hidup rakyat dapat dibajak oleh kepentingan rente.
Di lingkungan MPR, KPK mengungkap dugaan permintaan bagian sekitar sepuluh persen dari paket pengadaan. Istilah yang digunakan sungguh menyakitkan: “uang assalamualaikum”. Salam yang seharusnya menjadi doa keselamatan malah dipakai sebagai nama bagi dugaan pungutan ilegal.
Dalam perkara hibah kelompok masyarakat di Jawa Timur, KPK mengungkap dugaan komitmen biaya antara 15 hingga 25 persen. Dana yang seharusnya turun kepada rakyat lebih dahulu dipotong di meja kekuasaan. Di Kabupaten Malang, mantan pengurus KONI juga ditetapkan sebagai tersangka dalam dugaan penyalahgunaan dana hibah olahraga.
Inilah ghulul: mengambil harta yang dipercayakan kepada seseorang secara sembunyi-sembunyi. Allah memperingatkan bahwa pelaku penggelapan akan membawa barang yang digelapkan pada Hari Kiamat.
“Barang siapa berkhianat dalam urusan rampasan perang, kelak pada hari Kiamat dia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu.”
(QS. Ali Imran: 161)
Korupsi bukan sekadar memindahkan angka dari kas negara ke rekening pribadi. Korupsi mengambil buku pelajaran dari tangan murid, obat dari pasien, obat hama dari petani, dan masa depan dari anak-anak.
Pancasila Malah Dijaga Orang Palestina
Ironinya menjadi terang.
Muhammad Ali Taher tidak pernah mengikuti upacara bendera di halaman sekolah dan madrasah Indonesia. Namun, tindakannya mewujudkan kemanusiaan, persatuan, dan keadilan sosial.
Sebaliknya, orang yang setiap tahun berdiri di depan bendera dapat mengkhianati seluruh sila melalui satu tanda tangan proyek.
Rasulullah Muhammad ﷺ telah memperingatkan datangnya penyakit wahn: cinta dunia dan takut mati. Jumlah umat boleh besar, tetapi kehilangan daya ketika dunia telah memenuhi hati.
Ibnu Taimiyah juga mengingatkan bahwa Allah membiarkan negara yang adil tetap berdiri meskipun dipimpin orang yang tidak beriman, tetapi tidak membiarkan negara dzolim bertahan meskipun dipimpin orang beriman.
Negara tidak runtuh hanya karena kekurangan slogan. Negara runtuh ketika amanah kehilangan penjaganya.
Membayar Utang Sejarah
Kemerdekaan Indonesia tidak lahir dari perjuangan bangsa Indonesia saja. Republik ini juga tumbuh dari doa, media, jaringan diplomasi, dan harta saudara-saudara dari negeri jauh.
Karena itu, utang kepada Palestina tidak cukup dibayar dengan pidato tahunan.
Penghormatan kepada negri Baitul Maqdis dan Masjid Al-Aqsho harus dimulai dengan menjaga Indonesia: menolak korupsi, mengawasi anggaran, memilih pemimpin yang amanah, dan menghukum pengkhianat uang rakyat.
Palestina pernah membantu menjaga denyut nadi di awal kelahiran Republik Indonesia.
Sekarang, rakyat Indonesia harus menjaga agar Republik ini tidak mati di tangan bangsat-bangsat bertopeng anak bangsa.