Membaca Setiap Hari Tapi
Kita bukan kaum yang tidak membaca.
Kita membaca setiap hari. Membaca pesan WhatsApp. Membaca caption. Membaca komentar. Membaca status orang yang bahkan tidak kita kenal. Membaca judul berita, lalu merasa sudah tahu isi dunia.
Tapi itu bukan membaca yang membuat jiwa tumbuh. Itu hanya lewat di mata. Masuk sebentar, hilang lagi. Seperti angin yang numpang lewat di jendela rumah.
Kita membaca, tetapi tidak bertambah dalam.
Pesan teks membuat kita cepat bereaksi. Buku membuat kita belajar berpikir. Pesan teks meminta balasan. Buku meminta kesabaran. Pesan teks sering membuat kita salah paham. Buku membuat kita menundukkan ego.
Masalahnya, buku kini terasa seperti makhluk asing. Banyak dari kita belum tentu selesai membaca satu buku dalam setahun. Bahkan membaca artikel yang ringan pun belum tentu sepekan sekali.
Lalu kita heran, mengapa usia bertambah tetapi pikiran tidak ikut dewasa.
Padahal umur berjalan sendiri. Hikmah harus dicari.
Umat yang Lahir dari Perintah Membaca
Islam dimulai dengan kata yang sangat jelas: Iqra’.
Allah berfirman:
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1).
Wahyu pertama bukan perintah membangun istana. Bukan perintah mengumpulkan harta. Bukan pula perintah merebut kekuasaan. Wahyu pertama adalah perintah membaca.
Tetapi membaca dalam Islam tidak berdiri sendiri. Ia diikat dengan kalimat: bismi rabbik. Dengan nama Tuhanmu.
Artinya, membaca bukan hanya soal huruf. Membaca adalah jalan mengenal Allah, memahami ciptaan-Nya, menata akal, dan memperbaiki amal.
Kisah wahyu pertama di Gua Hira diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari. Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Bacalah.” Peristiwa itu mengguncang tubuh Nabi ﷺ. Tapi dari guncangan itu, lahirlah umat yang kelak mengajar dunia tentang tauhid, fikih, adab, bahasa, kedokteran, matematika, dan sejarah.
Maka jika umat ini malas membaca, ia sedang menjauh dari pintu pertama risalahnya sendiri.
Ketika Buku Terasa Seperti Musuh
Buku menuntut kita duduk.
Buku menuntut diam.
Buku menuntut urutan.
Buku menuntut kita mengikuti jalan pikiran orang lain dari awal sampai akhir. Ini berat bagi orang yang terbiasa scrolling hape. Satu jempol bergerak, ratusan potongan dunia lewat. Tidak perlu sabar. Tidak perlu berpikir lama. Tidak perlu menimbang.
Akhirnya, pikiran kita pendek napas.
Kita ingin paham, tetapi tidak mau belajar. Kita ingin bijak, tetapi tidak mau membaca. Kita ingin berpikir besar, tetapi tidak tahan membaca lebih dari beberapa halaman.
Padahal Allah berfirman:
“Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9).
Jawabannya jelas. Tidak sama.
Orang berilmu punya alat untuk menimbang. Orang jahil mudah digiring. Orang berilmu bertanya sebelum menghukumi. Orang jahil sering berani menyimpulkan sebelum memahami.
Karena itu Imam al-Bukhari membuat bab dalam Shahih-nya: “Ilmu sebelum ucapan dan amal.”
Sebelum berbicara, belajar. Sebelum berkomentar, membaca. Sebelum memimpin, memahami.
Banyak Tahu, Tetapi Tidak Berilmu
Zaman ini membuat orang mudah merasa pintar. Dia tahu banyak istilah. Tahu banyak isu. Tahu banyak nama. Tahu banyak potongan video.
Tapi tahu potongan bukan berarti punya ilmu.
Imam asy-Syafi’i berkata, “Ilmu bukanlah apa yang dihafal, tetapi apa yang bermanfaat.”
Kalimat ini memukul kita. Sebab banyak yang kita ingat, tetapi sedikit yang mengubah hidup. Banyak yang kita baca, tetapi sedikit yang membuat kita takut kepada Allah. Banyak yang kita dengar, tetapi sedikit yang membuat kita lebih rendah hati.
Informasi sering membuat orang cepat bicara. Ilmu membuat orang hati-hati.
Informasi membuat orang merasa penuh. Ilmu membuat orang sadar bahwa dirinya bodoh.
Karena itu membaca buku penting. Buku memberi konteks. Buku memberi sebab dan akibat. Buku mengajarkan kita melihat masalah tidak dari satu lubang kecil saja.
Tanpa buku, pikiran mudah dikuasai potongan kabar.
Dan potongan kabar sering melahirkan potongan manusia tidak utuh.
Kebodohan yang Percaya Diri
Malas membaca bukan hanya membuat kita lambat maju. Itu juga membuat kita berani bicara tanpa ilmu.
Dalam Sunan Abi Dawud, ada kisah seorang sahabat yang terluka lalu junub. Orang-orang di sekitarnya memberi fatwa agar dia mandi. Padahal tubuhnya sedang luka. Dia mandi, lalu meninggal. Ketika kabar itu sampai kepada Nabi ﷺ, beliau menegur keras. Beliau bersabda bahwa obat kebodohan adalah bertanya.
Lihatlah.
Niat baik tidak cukup. Semangat beragama tidak cukup. Kalau tidak disertai ilmu, ia bisa merusak.
Berapa banyak orang hari ini beragama hanya dari potongan ceramah? Berapa banyak yang berani memvonis hanya dari satu video? Berapa banyak yang merasa sudah paham karena membaca satu unggahan?
Kebodohan karena malu bertanya masih bisa ditolong.
Kebodohan yang percaya diri sering menjadi bencana.
Umat yang Menebus Tawanan dengan Baca-Tulis
Setelah Perang Badr, sebagian tawanan yang tidak mampu membayar tebusan diberi tugas mengajarkan baca-tulis kepada anak-anak kaum Anshor. Kisah ini dikenal dalam kitab-kitab sirah.
Ini bukan kisah kecil.
Rasulullah ﷺ sedang membangun umat. Beliau tidak hanya memikirkan kemenangan perang. Beliau juga memikirkan masa depan ilmu. Umat yang baru tumbuh perlu bisa membaca. Peradaban tidak cukup dijaga dengan pedang. Ia juga dijaga dengan pena.
Ada juga kisah Zaid bin Tsabit. Rasulullah ﷺ memerintahkannya belajar tulisan kaum Yahudi. Zaid pun belajar, lalu mampu membaca dan menulis surat untuk Nabi ﷺ.
Zaid tidak belajar bahasa asing untuk gaya. Beliau belajar karena umat harus mandiri. Umat harus bisa membaca dokumen. Umat harus paham bahasa bangsa lain. Umat tidak boleh mudah ditipu.
Bangsa yang malas membaca dokumen akan ditipu perjanjian kontrak.
Bangsa yang malas membaca sejarah akan mengulang luka lama.
Bangsa yang malas membaca ilmu akan mencerna semua sampah peradaban luar.
Bangsa yang malas membaca dirinya sendiri akan kehilangan arah.
Bangsa yang Kerdil
Sekumpulan individu yang malas membaca akan melahirkan bangsa yang kerdil.
Bangsa seperti itu mudah dijajah opini. Mudah diprovokasi isu. Mudah kagum pada bangsa lain, tetapi malas membangun dirinya sendiri. Dia menjadi konsumen, bukan pencipta. Dia sibuk meniru, bukan berpikir.
Penjajahan paling halus bukan ketika tanah direbut.
Penjajahan paling halus terjadi ketika cara berpikir sebuah bangsa dibuat kecil.
Dia tidak perlu selalu dirantai. Cukup dibuat malas belajar. Cukup dibuat sibuk dengan hiburan. Cukup dibuat puas dengan bacaan dangkal. Setelah itu, dia akan meminta diarahkan. Dia akan senang dipangku. Dia akan takut berdiri.
Padahal Allah meninggikan orang beriman dan orang berilmu beberapa derajat, sebagaimana disebut dalam QS. Al-Mujadilah: 11.
Derajat tidak naik dengan malas. Derajat naik dengan iman, ilmu, dan amal.
Mulai Lagi dari Halaman Pertama
Kita tidak harus langsung membaca banyak buku. Mulailah dari sedikit.
Baca satu halaman sehari. Matikan notifikasi. Pilih satu buku yang memang kita butuhkan. Catat satu kalimat yang penting. Bahas dengan keluarga. Bacakan buku kepada anak. Hidupkan majelis ilmu yang berbasis kitab, bukan hanya potongan motivasi.
Tidak harus cepat. Yang penting kembali.
Sebab kaum yang lupa membaca buku masih bisa sembuh jika mau belajar lagi.
Kita boleh membaca pesan teks. Tapi jangan berhenti di sana. Kita boleh membaca kabar harian. Tapi jangan hidup dari serpihan.
Umat Islam adalah umat Iqra’.
Jika kita berhenti membaca, kita berhenti menjadi diri kita sendiri.
Maka ambillah buku. Buka halaman pertama. Mulailah lagi dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.
Bangsa yang membaca akan belajar berdiri.
Bangsa yang malas membaca akan terus dipangku, diarahkan, lalu dijajah tanpa sadar.