by

Rumah Ibadahmu Dikencingi Babi dan Monyet

Rasanya Palestina

Bayangkan masjid di kampungmu.

Masjid tempat engkau dulu mengeja alif, ba, ta. Masjid tempat ayahmu mengajarimu wudhu. Masjid tempat ibumu menunggu azan magrib saat Romadhon. Masjid tempat jenazah kakekmu disholatkan. Masjid yang lantainya pernah menerima dahimu ketika engkau menangis kepada Allah.

Lalu suatu hari, masjid itu dirampas.

Untuk masuk ke dalamnya, engkau harus meminta izin kepada orang yang memusuhimu. Untuk sholat di sana, engkau harus melewati pasukan bersenjata. Untuk berdiri di halaman baitullah, engkau harus siap dihina, didorong-dorong, dicurigai, bahkan diusir.

Apa rasanya?

Rasa itulah yang selama puluhan tahun menjadi luka umat Islam di Masjid Al-Aqsho. Ia bukan hanya urusan Palestina. Ia bukan hanya berita luar negeri. Ia bukan hanya peta yang jauh dari rumah kita.

Al-Aqsho adalah bagian dari iman kita.

Maka ketika ia dinistakan, akidah dan harga diri kita ikut diuji.

Al-Aqsho Bukan Bangunan Tua

Masjid Al-Aqsho bukan sekadar batu, kubah, halaman, dan tembok. Ia punya tempat dalam sejarah besar peradaban Islam.

Ia kiblat pertama umat Islam. Sebelum kaum muslim menghadap Ka’bah, mereka pernah menghadap Baitul Maqdis dalam sholat. Ia juga tempat Rasulullah Muhammad singgah dalam peristiwa Isra’ Mikraj. Dari sana, beliau naik ke langit dengan kehendak Allah.

Allah berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 1:

“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsho yang telah Kami berkahi sekelilingnya.”

Ayat ini cukup menjadi alasan bagi hati muslim untuk tidak cuek.

Rasulullah Muhammad juga bersabda:

“Janganlah melakukan perjalanan jauh untuk tujuan ibadah kecuali menuju tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidku ini, dan Masjidil Aqsho.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim).

Jadi, jika ada orang bertanya, “Mengapa kita harus peduli Al-Aqsho?” jawabannya sederhana: karena Allah memuliakannya, Nabi menyebutnya, dan sejarah Islam menyimpannya.

Masalahnya Bukan Hanya Mereka. Masalahnya Juga Kita

Mudah bagi kita untuk marah.

Marah saat melihat penjajah teroris zionis yahudi israel masuk ke halaman Al-Aqsho. Marah saat melihat jamaah dihalangi. Marah saat melihat anak-anak Palestina menangis. Marah saat melihat dunia pura-pura tuli.

Tetapi setelah marah, kita harus bertanya kepada diri sendiri.

Mengapa Al-Aqsho belum juga bebas?

Jangan-jangan karena umat ini sudah lama kalah sebelum berperang. Kalah oleh dunia. Kalah oleh rasa takut. Kalah oleh perut. Kalah oleh gadget. Kalah oleh dosa yang kita pelihara seperti hewan kesayangan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam pernah mengingatkan tentang wahn. Para sahabat bertanya, “Apa itu wahn?” Beliau menjawab:

“Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud).

Inilah penyakit yang membuat umat jumlahnya banyak, tetapi kosong. Ramai, tetapi tidak berdaya. Bersorak, tetapi tidak bergerak.

Allah berfirman dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”

Ayat ini seperti cermin.

Kita ingin Al-Aqsho berubah, tetapi kita tidak mau berubah. Kita ingin penjajahan selesai, tetapi kita masih menjajah diri sendiri dengan maksiat. Kita ingin umat kuat, tetapi rumah kita lemah dari Al-Qur’an. Kita ingin anak-anak Gaza selamat, tetapi anak-anak kita sendiri kita biarkan tenggelam dalam tontonan yang merusak hati.

Ketika Amal Baik Terasa Berat

Ada hal yang menakutkan.

Kadang kita tidak berdonasi bukan karena tidak punya uang. Bisa jadi karena Allah belum memberi taufik kepada harta kita untuk ikut dalam jalan mulia.

Kadang kita tidak membaca Al-Qur’an bukan karena sibuk. Bisa jadi karena lisan kita terlalu lama kotor oleh dusta, ghibah, dan kata sia-sia.

Kadang kita tidak datang ke masjid bukan karena jauh. Bisa jadi karena hati kita sudah jauh lebih dulu.

Para ulama sering mengaitkan maksiat dengan tertahannya amal. Sufyan ats-Tsauri pernah berkata:

“Aku terhalang dari shalat malam selama lima bulan karena satu dosa yang aku lakukan.”

Kalimat ini pendek, tetapi menampar.

Jika seorang ulama besar merasa satu dosa bisa menghalanginya dari qiyamul lail, bagaimana dengan kita? Berapa banyak dosa yang membuat kaki kita berat ke masjid? Berapa banyak dosa yang membuat mata kita kering saat melihat genosida Gaza? Berapa banyak dosa yang membuat tangan kita ringan membeli hal sia-sia, tetapi berat bedonasi untuk Al-Aqsho?

Jangan-jangan kita bukannya tidak mampu.

Jangan-jangan kita sedang tidak dipilih oleh Allah.

Dimulai dari Hati yang Bersih

Solahuddin Al-Ayyubi tidak membebaskan Al-Aqsho hanya dengan pedang. Beliau membawa pasukan, tentu. Beliau menyusun strategi, tentu. Tetapi di balik itu ada pembinaan iman, ilmu, dan kedisiplinan.

Ada kisah masyhur tentang Solahuddin yang jarang tersenyum. Ketika ditanya sebabnya, beliau menjawab dengan makna yang sering dikutip para penulis sejarah: “Bagaimana aku bisa tersenyum sementara Al-Aqsho masih dalam penjajahan?”

Kita tidak perlu memperdebatkan senyumnya. Pelajarannya jelas: Al-Aqsho hidup dalam dadanya.

Sebelum pembebasan itu terjadi, Nuruddin Zanki telah menyiapkan mimbar untuk Masjid Al-Aqsho. Beliau belum melihat masjid suci itu bebas. Tetapi beliau menyiapkan simbol kemenangan. Seolah beliau berkata, “Kita belum sampai, tetapi kita tidak boleh berhenti menyiapkan jalan.”

Itulah iman yang hidup.

Iman tidak hanya menangis. Iman menyiapkan generasi. Iman membangun madrasah. Iman memperbaiki pasar. Iman membersihkan harta. Iman melatih tubuh. Iman menjaga lisan. Iman menyuruh anak-anak mengenal Al-Qur’an sebelum mengenal dunia terlalu jauh.

Menjadi Muslim yang Lebih Baik

Maka pesan tulisan ini bukan untuk merendahkan siapa pun sebagai manusia. Islam tidak mengajarkan kita menjadi kasar tanpa adab. Tetapi Islam mengajarkan kita membenci kedzoliman, penistaan, dan pembangkangan kepada Allah.

Al-Qur’an memang menyebut kaum yang dilaknat karena melampaui batas, sebagaimana dalam Surah Al-Ma’idah ayat 60. Tetapi ayat seperti ini seharusnya membuat kita takut lebih dulu kepada keadaan diri sendiri. Jangan sampai kita sibuk menunjuk orang lain, sementara sifat buruk itu tumbuh di hati kita: sombong, rakus, licik, pengecut, dan tunduk pada hawa nafsu.

Kita harus menjadi muslim yang lebih baik.

Lebih baik sholatnya. Lebih baik hafalan Al-Qur’annya. Lebih baik sedekahnya. Lebih baik akhlaknya. Lebih baik keberaniannya. Lebih baik kepeduliannya kepada Baitul Maqdis dan Masjid Al-Aqsho.

Mulailah dari yang dekat.

Datang ke masjid. Baca Al-Qur’an. Ajari anak tentang Palestina. Sisihkan harta. Doakan para mujahidin. Boikot yang mampu diboikot. Tulis. Bicara. Didik. Jangan normalisasi genosida. Jangan biarkan anak tumbuh tanpa tahu bahwa Al-Aqsho adalah amanah umat.

Tobat Sebelum Terlambat

Penistaan terhadap Al-Aqsho adalah penghinaan terhadap umat Islam. Tetapi lebih dari itu, ia adalah ujian: apakah kita masih hidup sebagai muslim, atau hanya memiliki KTP muslim?

Jangan sampai Allah membuang kita dari barisan orang-orang yang menolong agama-Nya.

Jangan sampai harta kita tidak dipakai untuk kebaikan. Jangan sampai lisan kita tidak dipakai membaca Al-Qur’an. Jangan sampai kaki kita tidak dipakai menuju masjid. Jangan sampai anak-anak kita hanya mewarisi rumah, smartphone, dan ijazah, tetapi tidak mewarisi luka dan cita-cita membebaskan Baitul Maqdis.

Ya Allah, lembutkan hati kami untuk Al-Qur’an.

Ringankan kaki kami menuju masjid.

Bersihkan harta kami melalui sedekah.

Hidupkan cinta kami kepada Masjid Al-Aqsho.

Dan jadikan kami bagian dari umat yang Engkau pilih untuk menolong agama-Mu.

Aamiin.

Write a Comment

Comment