Viralisasi
Hari ini manusia seperti dipaksa tahu semuanya. Harus tahu berita terbaru. Harus tahu tren terbaru. Harus tahu siapa sedang viral, siapa sedang dihujat, siapa sedang dipuji.
Padahal tidak semua yang ramai perlu kita ikuti.
Banyak orang membuka media sosial bukan karena butuh. Mereka hanya takut tertinggal. Takut tidak nyambung saat orang lain bicara. Takut dianggap tidak update. Lalu mereka masuk ke layar kecil itu, menggeser-geser jari, dan pulang dengan hati yang lebih sempit.
Dia belum tentu miskin, tetapi merasa tertinggal.
Dia belum tentu gagal, tetapi merasa kalah.
Dia belum tentu sedih, tetapi setelah melihat hidup orang lain, dadanya menjadi sesak.
Maka beruntunglah mereka yang mampu hidup tanpa media sosial. Atau setidaknya, mereka yang punya media sosial tetapi tidak diperbudak olehnya. Sebab dalam Islam, hati tidak tenang karena mengikuti tren manusia. Hati tenang karena mengingat Allah, menjaga waktu, dan meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.
Memaksa Diri Mengikuti yang Trending
Banyak orang tidak sungguh-sungguh ingin mengikuti tren. Mereka hanya takut hilang dari percakapan manusia. Takut tidak dianggap bagian dari zaman. Takut seolah-olah dunia berjalan tanpa mereka.
Nama barunya FOMO, fear of missing out.
Tetapi itu bukan penyakit baru. Ia sudah lama tinggal di hati manusia. Ia muncul saat seseorang terlalu menggantungkan dirinya pada pandangan orang lain.
Abu Darda pernah memberi nasihat:
“Siapa yang mengikuti dirinya terhadap apa yang dia lihat pada manusia, maka panjanglah kesedihannya dan tidak akan sembuh amarahnya.”
Nasihat ini diriwayatkan dalam Az-Zuhd karya Abu Dawud.
Sedihnya panjang karena bahagianya ditaruh di tangan manusia.
Amarahnya tak reda karena dia ingin semua orang ridho kepadanya.
Padahal ridho manusia itu pintu yang tidak pernah selesai diketuk. Hari ini mereka memuji. Besok mereka bosan. Lusa mereka mencela. Setelah itu mereka mencari orang lain untuk dibicarakan.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis yang disampaikan Aisyah:
“Barang siapa mencari ridha Allah walau manusia murka, Allah akan mencukupinya dari manusia. Barang siapa mencari ridha manusia dengan kemurkaan Allah, Allah akan menyerahkannya kepada manusia.” (HR. At-Tirmidzi).
Di sinilah masalah media sosial menjadi lebih dalam. Ia bukan hanya soal waktu. Ia soal hati. Soal siapa yang kita cari. Soal kita yang takut kehilangan.
Media Sosial dan Hilangnya Ketenangan
Media sosial bergerak terlalu cepat. Pagi satu isu. Siang isu lain. Malam semua orang lupa. Hari ini orang menangis bersama. Besok saling mencaci. Lusa beralih tertawa.
Jiwa manusia dipaksa mengejar arus yang tidak punya garis akhir.
Allah berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Ketenangan tidak lahir dari notifikasi.
Ketenangan tidak lahir dari validasi.
Ketenangan lahir dari hati yang tahu ke mana dia harus pulang.
Orang yang terus mengikuti keramaian akan sulit mendengar suara hatinya sendiri. Apalagi mendengar nasihat wahyu. Dia hidup di tengah bunyi. Di tengah komentar. Di tengah perbandingan. Sampai dia lupa bahwa dunia memang tidak pernah dibuat sebagai tempat tinggal.
Rasulullah ﷺ bersabda kepada Ibnu Umar:
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” (HR. Al-Bukhori).
Seorang Muslim memang hidup di dunia. Dia bekerja. Dia belajar. Dia berdagang. Dia berteman. Tetapi dia tidak boleh menjadikan dunia sebagai pusat hidup. Media sosial boleh dipakai. Namun ia tidak boleh menjadi kiblat batin.
Tidak Semua yang Ramai Itu Penting
Salah satu tanda matang dalam beragama adalah mampu memilah.
Mana yang perlu diketahui.
Mana yang cukup dilewati.
Tidak semua berita harus dikomentari. Tidak semua debat harus dimasuki. Tidak semua tren harus diikuti. Kadang diam lebih menyelamatkan. Kadang tidak tahu justru lebih menjaga hati.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Di antara baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Ibnu Rojab menjelaskan bahwa orang yang baik Islamnya akan meninggalkan ucapan dan perbuatan yang tidak dia butuhkan, baik dalam urusan agama maupun dunia.
Ini nasihat yang terasa seperti dibuat untuk zaman gadget.
Sebab media sosial sering membuat manusia merasa wajib hadir dalam semua perkara. Wajib punya pendapat. Wajib ikut marah. Wajib ikut tertawa. Wajib ikut menyindir. Padahal banyak hal tidak menambah iman, tidak menambah ilmu, tidak memperbaiki akhlak, dan tidak mendekatkan kita kepada Allah.
Jika sesuatu tidak membantu akhirat dan tidak memperbaiki dunia kita, barangkali memang layak ditinggalkan.
Uwais Al-Qarni: Tidak Terkenal di Bumi, Dikenal di Langit
Ada kisah yang perlu kita ingat saat dunia terlalu sibuk mengejar nama.
Namanya Uwais Al-Qarni. Kisahnya datang dalam Shahih Muslim. Beliau bukan sahabat yang terkenal di hadapan manusia. Beliau tidak punya panggung. Beliau tidak mengejar nama. Beliau hidup sederhana dan berbakti kepada ibunya.
Tetapi Rasulullah ﷺ mengabarkan keutamaannya kepada Umar bin Al-Khaththab. Bahkan Umar diminta agar meminta Uwais mendoakan ampunan baginya.
Bayangkan.
Umar bin Al-Khaththab, sahabat besar, manusia yang dijamin surga, diminta mencari seorang lelaki yang tidak terkenal. Lelaki yang namanya mungkin tidak masuk dalam percakapan banyak orang. Tetapi di sisi Allah, dia punya kedudukan.
Uwais tidak butuh panggung manusia untuk mulia di sisi Allah.
Beliau tersembunyi dari popularitas, tetapi tidak tersembunyi dari pandangan Allah.
Zaman sekarang, banyak orang ingin terlihat baik sebelum benar-benar menjadi baik. Ingin terlihat saleh sebelum melatih ikhlas. Ingin dipuji manusia sebelum dipuji Allah.
Padahal yang lebih penting bukan dilihat manusia.
Yang lebih penting adalah diterima Allah.
Beruntunglah yang Bisa Sembunyi
Tidak punya media sosial bukan berarti tertinggal. Bisa jadi dia sedang diselamatkan dari banyak pintu fitnah: riya’, hasad, ghibah, debat sia-sia, pamer, membandingkan hidup, dan mengejar pengakuan.
Al-Zubair bin Al-‘Awwam berkata:
“Siapa di antara kalian yang mampu menyembunyikan amal salehnya, hendaklah dia melakukannya.”
Atsar ini diriwayatkan dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah dan dinilai sahih oleh Al-Albani.
Media sosial membuat amal saleh terasa harus diumumkan. Membaca buku difoto. Sedekah direkam. Kajian ditampilkan. Tangis dibuat konten.
Tidak semua itu salah. Tetapi hati manusia lemah. Dia sering mulai dengan niat berbagi, lalu pelan-pelan ingin dipuji. Dia mulai dengan ingin memberi contoh, lalu diam-diam menunggu tepuk tangan.
Ada nikmat besar dalam hidup yang tidak selalu disaksikan manusia.
Ada ibadah yang lebih selamat ketika tidak menjadi unggahan.
ntah. Dia harus punya rem. Dia harus tabayyun. Dia harus tahu kapan bicara dan kapan diam.
Bahagia Tidak Harus Trending
Kita boleh tahu apa yang sedang ramai. Sesekali itu berguna untuk obrolan, dakwah, pekerjaan, atau memahami zaman. Tetapi jangan jadikan yang trending sebagai ukuran hidup.
Sebab yang ramai belum tentu benar.
Yang viral belum tentu bernilai.
Yang dipuji manusia belum tentu dicintai Allah.
Maka bertanyalah pada diri sendiri.
Berapa banyak waktu habis karena media sosial?
Berapa sering hati gelisah setelah melihat hidup orang lain?
Berapa banyak amal rusak karena ingin dilihat?
Berapa banyak dzikir, baca Al-Qur’an, dan ilmu yang kalah oleh pendar layar hape?
Duniamu tidak berakhir tanpa media sosial. Bahkan mungkin, di sanalah sebagian hidupmu mulai kembali.
Beruntunglah mereka yang tanpa media sosial, atau yang punya media sosial tetapi hatinya tidak tinggal di sana.
Mereka mungkin tidak tahu semua yang viral di bumi.
Tetapi semoga mereka lebih dikenal oleh penduduk langit.