Negeri Serba Boleh
Indonesia adalah negeri yang serba boleh.
Di sini perempuan boleh bercadar rapat. Boleh juga berjalan dengan pakaian yang hampir habis kainnya. Nilai agama masih dihormati. Tetapi tidak selalu ditaati. Orang bisa marah saat agama dihina, tetapi diam saat anak-anaknya belajar mencintai lawan jenis tanpa batas.
Pacaran sudah dianggap biasa.
Anak SMP pacaran, dibilang lucu. Anak SMA pulang malam, dibilang masa muda. Chat mesra, telepon larut, boncengan, jalan berdua, saling pegang tangan, dianggap proses saling mengenal.
Padahal pacaran punya saudara kembar yang jarang disebut: zina.
Mungkin tidak sampai hamil. Mungkin tidak ketahuan. Mungkin tidak ada kabar buruk yang sampai ke telinga orang tua. Tetapi hati sudah rusak. Malu sudah retak. Batas tubuh sudah dilanggar. Dan setelah semua itu terjadi, orang tua sering berkata, “Kami tidak menyangka.”
Pertanyaannya: kapan kita ngobrol tentang keperawanan anak-anak kita?
Bukan untuk menuduh.
Bukan untuk mempermalukan.
Bukan untuk memeriksa tubuh mereka seperti barang rusak.
Tetapi untuk bertanya dengan jujur: selama pacaran dianggap normal dan baik-baik saja, bagaimana mungkin kita berharap kehormatan anak-anak putri kita tetap baik-baik saja?
Jangan Mulai dari Tuduhan
Islam menjaga kehormatan manusia. Karena itu pembicaraan ini tidak boleh dimulai dari prasangka.
Allah berfirman:
“Dan orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang baik berzina, lalu mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka delapan puluh kali.” (QS. An-Nur: 4).
Ayat ini keras. Sebab lisan manusia sering lebih tajam dari pisau. Orang tua tidak boleh asal menuduh anaknya. Masyarakat tidak boleh menjadikan keperawanan anak perempuan sebagai bahan bisik-bisik.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim).
Maka ngobrol tentang keperawanan bukan berarti membuka aib. Bukan pula membuat anak takut kepada orang tua. Ini obrolan tentang amanah. Tentang penjagaan diri. Tentang batas pergaulan. Tentang rumah yang tidak boleh kalah oleh jalanan dan layar ponsel.
Jangan jadikan rasa takut sebagai tuduhan.
Jadikan rasa takut sebagai pendidikan.
Pacaran Adalah Jalan Tol Amoral
Allah tidak hanya melarang zina. Allah melarang jalan menuju zina.
Allah berfirman:
“Dan janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina itu perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32).
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa larangan mendekati zina mencakup sebab-sebab dan jalan-jalan yang mengantarkan kepadanya.
Ini penting. Karena manusia jarang jatuh dalam dosa besar sekali lompat. Dia turun pelan-pelan.
Dari tatapan.
Dari candaan.
Dari chat.
Dari video call.
Dari pertemuan.
Dari sentuhan.
Lalu setelah semuanya terjadi, orang tua terkejut. Padahal jalan itu sudah lama dibuka. Namanya pacaran. Bentuknya tampak manis. Isinya sering kali nafsu yang diberi nama cinta.
Anak-anak kita belum matang membaca akibat. Mereka mudah tertipu perhatian. Mudah mengira rindu sebagai bukti cinta. Mudah mengira janji pacar sebagai masa depan.
Sebagian kesalahan memang ada pada mereka, terutama jika mereka sudah baligh dan tahu halal-haram. Tetapi tanggung jawab besar tetap ada pada orang tua.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6).
Ali bin Abi Thalib menafsirkan ayat ini dengan makna: didiklah mereka adab dan ajarilah mereka ilmu agama.
Jadi orang tua tidak cukup memberi makan. Tidak cukup membayar sekolah. Tidak cukup membelikan smartphone. Lalu jiwa anak diserahkan kepada internet, teman, dan pacar.
Ponsel Bisa Menjadi Kamar Gelap
Dulu khalwat mudah dikenali. Laki-laki dan perempuan berduaan di tempat sepi.
Sekarang khalwat bisa masuk kamar lewat ponsel.
Chat malam. Video call rahasia. Foto pribadi. Akun kedua. Grup tertutup. Kalimat “sudah tidur?” yang terlihat kecil, tetapi sering membuka pintu fitnah besar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan kecuali setan menjadi pihak ketiganya.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad)
Setan tidak selalu datang dengan wajah menakutkan. Kadang dia datang sebagai notifikasi. Sebagai perhatian. Sebagai rayuan. Sebagai janji: “Aku serius kok.”
Karena itu orang tua harus tahu dunia anak. Bukan untuk memata-matai secara kasar. Tetapi untuk menjaga sebelum terlambat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seseorang itu berada di atas agama sahabat dekatnya. Maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang dia jadikan sahabat dekat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Teman bisa menjadi pagar. Teman juga bisa menjadi jurang.
Ada anak yang awalnya malu pacaran, lalu menjadi biasa karena semua temannya pacaran. Ada anak yang awalnya takut bohong, lalu belajar menipu orang tua karena lingkungan mengajarinya. Ada anak yang awalnya menjaga diri, lalu melemah karena sering mendengar, “Santai saja, semua orang juga begitu.”
Anak Laki-Laki Juga Harus Dididik
Kesalahan banyak keluarga adalah anak perempuan dijaga, anak laki-laki dibiarkan.
Padahal zina tidak terjadi sendirian.
Allah berfirman:
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya.” (QS. An-Nur: 30).
Setelah itu, Allah juga memerintahkan perempuan beriman untuk menjaga pandangan dan kehormatannya dalam QS. An-Nur: 31.
Perhatikan. Perintah menjaga pandangan dimulai dari laki-laki.
Maka jangan jadikan anak perempuan sebagai satu-satunya penjaga moral. Anak laki-laki harus diajari bahwa tubuh perempuan bukan hiburan. Perasaan perempuan bukan permainan. Janji nikah bukan alat untuk mengambil yang haram.
Anak perempuan dijaga kehormatannya. Anak laki-laki dididik agar tidak merusak kehormatan siapa pun.
Belajarlah dari Nabi Yusuf
Nabi Yusuf pernah berada di pintu dosa yang terbuka. Seorang perempuan berkedudukan menggoda beliau. Pintu-pintu ditutup. Kesempatan ada. Tidak ada manusia yang melihat.
Tetapi Nabi Yusuf berkata:
“Aku berlindung kepada Allah.” (QS. Yusuf: 23).
Nabi Yusuf tidak selamat karena situasinya aman. Situasinya justru berbahaya. Beliau selamat karena iman, rasa takut kepada Allah, dan pertolongan Allah.
Anak-anak kita tidak sekuat Nabi Yusuf.
Maka jangan sengaja menaruh mereka di pintu godaan, lalu berharap mereka selalu menang. Kalau Nabi Yusuf saja memilih lari dari fitnah, mengapa anak-anak kita dibiarkan mendekatinya atas nama pacaran?
Ada pula kisah tiga orang yang terjebak dalam gua, sebagaimana diriwayatkan Al-Bukhori dan Muslim. Salah satu dari mereka pernah hampir berzina dengan perempuan yang dia cintai. Ketika dosa sudah sangat dekat, perempuan itu berkata, “Takutlah kepada Allah.” Dia pun berhenti. Rasa takut kepada Allah menyelamatkannya.
Kisah ini memberi harapan. Orang bisa berhenti. Orang bisa taubat. Anak yang pernah salah tidak boleh dihancurkan dengan hinaan. Tugas orang tua adalah menutup aib, memutus jalan dosa, menuntun taubat, dan membangun kembali penjagaan.
Mulailah Bicara Sebelum Terlambat
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Malu adalah bagian dari iman.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim).
Malu bukan kelemahan. Malu adalah pagar. Jika malu hilang, dosa tidak lagi terasa berat. Chat mesra dianggap biasa. Sentuhan dianggap wajar. Pacaran dianggap sehat. Zina dianggap kecelakaan.
Padahal zina jarang datang sebagai ledakan. Ia datang sebagai kebiasaan yang dianggap aman.
Maka orang tua harus mulai bicara. Bicarakan zina sebelum anak mengenalnya dari internet. Ajarkan batas interaksi lawan jenis. Kenali teman dekat anak. Buat aturan menggunakan ponsel. Bangun kedekatan hati. Ajarkan anak berkata tidak. Beri teladan.
Ini bukan obrolan yang nyaman. Tetapi perlu.
Selama pacaran dianggap normal dan baik-baik saja, selama itu pula kehormatan anak-anak putri kita tidak akan baik-baik saja.
Maka mari mulai bicara. Mulai ngobrol.
Dengan ilmu.
Dengan iman.
Dengan kasih sayang.
Karena anak bukan hanya harus selamat nilai sekolahnya.
Anak juga harus selamat kehormatannya.
Anak juga harus selamat akhiratnya.