by

Generasi Salahuddin, Bukan Salah Dolen

Anak-Anak Kita dan Mereka

Ada suara yang seharusnya membuat kita berhenti.

Bukan suara bel sekolah. Bukan suara notifikasi gadget. Bukan pula suara musik dari kafe jalanan. Itu suara anak-anak Gaza. Suara lapar. Suara takut. Suara tubuh kecil yang berlari dari satu reruntuhan ke reruntuhan lain.

Lalu kita melihat anak-anak kita.

Sebagian masih sibuk mencari jati diri di tempat yang salah. Salah teman. Salah tontonan. Salah jalan pulang. Salah mengukur hidup. Dalam bahasa Jawa, itu bisa disebut “salah dolen”. Salah pergaulan. Salah bermain. Salah mengisi masa muda.

Maka tulisan ini bukan sekadar ajakan bersedih. Ini panggilan untuk berbenah.

Orang tua dan guru muslim di Indonesia tidak boleh berhenti pada rasa iba. Kita punya tugas yang lebih panjang: menanamkan impian membebaskan Baitul Maqdis dan Masjid Al-Aqsho ke dalam dada anak-anak kita.

Bukan agar mereka tumbuh dengan kebencian.

Tapi agar mereka tumbuh dengan iman, ilmu, adab, keberanian, dan arah hidup.

Mengapa Harus Salahuddin?

Kita semua mencintai Umar bin Khattab. Beliau sahabat Nabi Muhammad. Beliau dididik langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam. Saat Baitul Maqdis dibebaskan pada masa beliau, kita melihat buah dari madrasah kenabian.

Namun Salahuddin Al-Ayyubi memberi pelajaran lain.

Beliau bukan sahabat Nabi. Beliau tidak hidup di Madinah bersama Rasulullah. Beliau lahir berabad-abad setelah wahyu turun. Beliau tumbuh saat umat Islam terpecah, lemah, dan sebagian kehilangan arah.

Tetapi beliau membebaskan kembali kiblat pertama umat Islam, Masjid Al-Aqsho.

Di sinilah tamparannya bagi kita.

Kita tidak bisa terus berkata, “Zaman sudah rusak.” Salahuddin juga hidup di zaman yang rusak. Kita tidak bisa berkata, “Umat sedang terpecah.” Salahuddin juga lahir di tengah umat yang terpecah. Kita tidak bisa berkata, “Anak-anak sekarang sulit diarahkan.” Justru karena sulit, pendidikan harus hadir.

Allah memuliakan Masjid Al-Aqsho dalam Al-Qur’an. Dalam Surah Al-Isro’ ayat 1, Allah menyebut Masjid Al-Aqsho sebagai tempat yang sekelilingnya diberkahi. Maka Al-Aqsho bukan isu asing. Ia bagian dari iman, sejarah, dan kehormatan umat Islam.

Rasulullah juga mengajarkan bahwa orang beriman seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, anggota tubuh lain ikut kesakitan dan tidak bisa tidur nyenyak. Maka ketika Gaza berdarah, hati muslim tidak boleh tidur nyenyak seolah tidak terjadi apa-apa.

Salahuddin Tidak Lahir Tiba-Tiba

Kita sering membayangkan Salahuddin sebagai panglima yang tiba-tiba datang membawa pedang. Itu keliru.

Salahuddin adalah hasil dari proses panjang. Sebelum beliau dikenal sebagai panglima, ada pembenahan ilmu, akidah, madrasah, dan kepemimpinan. Ada iklim pendidikan yang dibangun oleh para ulama dan pemimpin sebelum beliau. Imam Al-Ghozali mengingatkan umat tentang penyakit hati, fitnah dunia, riya’, dan kelalaian umat. Nuruddin Zanki membangun visi politik dan pendidikan untuk menyatukan umat. Madrasah-madrasah menguat. Para ulama mengajar. Para pemimpin menata arah.

Ada kisah yang layak ditanamkan kepada anak-anak.

Nuruddin Zanki pernah menyiapkan mimbar untuk Masjid Al-Aqsho sebelum kota Yerusalem bebas. Secara lahiriah, Masjid Al-Aqsho belum direbut kembali. Tetapi secara iman, beliau sudah menyiapkan tempat khutbahnya. Beliau seperti berkata kepada zamannya: “Kita belum sampai, tapi kita harus menyiapkan generasi yang percaya bahwa kita akan sampai.”

Nuruddin wafat sebelum melihat mimbar itu berdiri di Masjid Al-Aqsho. Salahuddin yang kemudian menyelesaikan jalan itu.

Inilah pendidikan.

Seorang guru bisa saja tidak melihat muridnya menjadi pahlawan. Seorang ayah bisa saja wafat sebelum melihat anaknya menjadi pejuang ilmu. Seorang ibu bisa saja hanya bermunajat di malam hari. Tetapi Allah tidak pernah menyia-nyiakan benih yang ditanam dengan iman.

Imam Al-Bukhori membuat bab dalam Kitab Shahihnya: “Ilmu sebelum berkata dan beramal.” Ini penting. Anak-anak tidak cukup dibakar emosinya. Mereka harus dibangun ilmunya. Semangat tanpa ilmu bisa menjadi ribut. Ilmu tanpa iman bisa menjadi kosong. Iman, ilmu, dan amal harus berjalan bersama.

Bahaya Menjadi Generasi Salah Dolen

“Salah dolen” bukan hanya anak yang nongkrong terlalu lama. Itu ialah simbol anak yang kehilangan arah.

Mereka tahu nama selebriti, tetapi tidak tahu nama 10 Sahabat yang dijamin masuk Surga. Mereka hafal lagu-lagu viral, tetapi asing dengan Al-Qur’an. Mereka bisa marah saat klub bola kesayangannya kalah, tetapi tidak peduli saat mendengar Masjid Al-Aqsho dinistakan. Mereka pandai bermedia sosial, tetapi tidak pandai membaca luka umat.

Ini bukan semata salah anak.

Kadang rumah tidak memberi arah. Kadang madrasah hanya mengejar nilai. Kadang guru terlalu sibuk dengan administrasi. Kadang orang tua merasa cukup jika anaknya bisa makan, sekolah, lulus, lalu bekerja.

Padahal anak muslim tidak lahir hanya untuk mencari kerja.

Dia lahir untuk menyembah Allah, memakmurkan bumi, menolong yang lemah, dan menjaga amanah umat.

Rasulullah Muhammad mengingatkan agar kita memanfaatkan masa muda sebelum datang masa tua. Masa muda bukan ruang kosong untuk dihabiskan. Ia modal. Ia api. Jika tidak diarahkan, ia membakar pemiliknya sendiri.

Karena itu orang tua dan guru harus berhenti bertanya, “Anak ini nanti kerja apa?”

Tanyakan juga, “Anak ini nanti membela apa?

Doktrin Al-Aqsho di Rumah dan Madrasah

Kita perlu memasukkan Baitul Maqdis dan Masjid Al-Aqsho ke ruang keluarga dan ruang kelas.

Bukan sebagai slogan tahunan. Bukan hanya poster. Bukan hanya doa setelah berita viral. Tetapi sebagai arah pendidikan.

Anak PAUD dan TK bisa dikenalkan bahwa Baitul Maqdis adalah tanah yang diberkahi dan Masjid Al-Aqsho adalah masjid suci umat Islam selain Masjid Al-Haram dan Masjid Nabawi. Anak MI bisa diajak mengenal kisah Umar, Nuruddin, dan Salahuddin. Anak remaja bisa diajak membaca sejarah Perang Salib, kolonialisme, media, ekonomi, dan peta kekuatan dunia. Mahasiswa bisa diajak menulis, meneliti, berdonasi, mengadvokasi, dan membangun kemandirian umat.

Di rumah, orang tua bisa memulai dari hal-hal kecil. Ceritakan Palestina sebelum tidur. Putar murottal atau baca surat Al-Isro’. Ajak anak menyisihkan uang jajan untuk donasi ke Gaza. Biasakan bertanya sebelum membeli: apakah produk ini pro penjajah teroris zionis yahudi israel atau tidak? Latih anak agar punya sikap.

Di madrasah, guru bisa menyelipkan Baitul Maqdis dan Masjid Al-Aqsho dalam pelajaran. Dalam sejarah, dalam bahasa, dalam seni, dalam matematika donasi, dalam proyek literasi, dalam amanat upacara bendera, dalam mading, dalam komik, dalam lagu, dalam hafalan doa.

Jangan takut anak punya impian besar.

Yang harus kita takutkan ialah anak tidak punya impian selain memperkaya dirinya sendiri.

Jangan Biarkan Mereka Salah Jalan

Gaza adalah luka. Tetapi luka itu bisa menjadi pintu pembuka.

Indonesia tidak cukup mengirim bantuan. Indonesia harus mengirim jawaban jangka panjang: generasi yang lebih beriman, lebih berilmu, lebih disiplin, lebih berani, dan lebih peduli kepada Baitul Maqdis dan Masjid Al-Aqsho.

Tugas itu ada di tangan orang tua dan guru.

Mungkin anak-anak kita belum bisa membebaskan Masjid Al-Aqsho hari ini. Tetapi mereka bisa mulai dibebaskan dari kelalaian. Dari pergaulan yang rusak. Dari tontonan yang mematikan hati. Dari hidup yang hanya berputar pada diri sendiri.

Saatnya memperbaiki generasi salah dolen.

Saatnya menyiapkan generasi Salahuddin.

Sebab jika anak-anak kita tidak diajari cara mencintai Baitul Maqdis dan Masjid Al-Aqsho, mereka akan diajari dunia cara mencintai hawa nafsunya sendiri.

Write a Comment

Comment