Sok Suci?
Sejak kecil kita sering mendengar nasihat ini.
“Kalau berteman jangan pilih-pilih.”
Kedengarannya baik. Seolah bijak. Seolah siapa pun yang memilih teman adalah orang sombong, merasa suci, dan tidak mau bergaul.
Tapi tunggu dulu.
Islam memang mengajarkan kita berbuat baik kepada siapa saja.
Kita harus ramah.
Kita harus adil.
Kita tidak boleh dzolim.
Kita tidak boleh merendahkan orang karena harta, pekerjaan, suku, masa lalu, atau bentuk rupanya.
Tapi berbuat baik kepada semua orang tidak sama dengan menjadikan semua orang teman dekat.
Itu dua hal yang berbeda.
Kita boleh tersenyum kepada siapa saja.
Tapi tidak semua orang boleh masuk ke ruang terdalam hidup kita.
Kita boleh membantu siapa saja.
Tapi tidak semua orang layak menjadi teman curhat, teman nongkrong, teman berpikir, teman jalan, dan teman mengambil keputusan.
Sebab teman dekat bukan sekadar teman.
Ia adalah arah.
Ia adalah cermin.
Ia adalah jalan yang pelan-pelan menarik kita.
Entah menuju surga.
Atau menuju penyesalan.
Tidak Semua Hal Bisa Kita Pilih
Kita tidak pernah memilih lahir dari rahim siapa.
Kita tidak memilih suku.
Tidak memilih bentuk wajah.
Tidak memilih keluarga pertama yang menyambut kita di dunia.
Itu wilayah takdir.
Allah yang menetapkan.
Tetapi teman dekat berbeda.
Pertemanan adalah wilayah pilihan.
Allah memberi kita akal. Memberi rasa. Memberi tanda. Memberi pengalaman. Memberi peringatan.
Lalu kita diminta memilih.
Maka lucu sekali kalau seseorang sudah diberi kebebasan memilih jalan, tapi malah masuk sendiri ke lingkaran yang merusak hidupnya.
Dia tahu temannya suka meremehkan agama.
Dia tahu tongkrongannya penuh ghibah.
Dia tahu obrolannya menyeret ke maksiat.
Dia tahu setelah pulang dari sana, hatinya makin keras.
Tapi dia bertahan.
Alasannya klasik.
Tidak enak.
Takut sendirian.
Takut dibilang pilih-pilih teman.
Padahal kadang, menyelamatkan iman memang harus dimulai dari satu kalimat pendek.
Cukup!
Teman Dekat Menentukan Arah
Manusia itu mudah meniru.
Kita meniru cara bicara orang yang sering bersama kita.
Meniru selera humornya.
Meniru cara marahnya.
Meniru konsepnya dalam melihat hidup.
Bahkan kadang meniru dosanya tanpa sadar.
Pelan-pelan.
Tidak terasa.
Seperti baju yang terlalu lama digantung di tempat berasap.
Awalnya bersih.
Lama-lama bau juga.
Nabi ﷺ bersabda, “Seseorang itu tergantung pada agama teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Perhatikan.
Bukan hanya tergantung pada buku yang dibaca.
Bukan hanya tergantung pada kajian yang didengar.
Tapi juga pada teman dekatnya.
Karena teman dekat adalah ceramah hidup yang kita dengar setiap hari.
Nabi ﷺ juga memberi perumpamaan yang sangat jelas. Teman baik seperti penjual minyak wangi. Kita bisa membeli minyaknya, atau minimal mendapat bau harumnya. Teman buruk seperti pandai besi. Pakaian kita bisa terbakar, atau minimal terkena bau asapnya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Al-Bukhori dan Muslim.
Sederhana.
Dekat dengan orang baik, kita ikut wangi.
Dekat dengan orang buruk, kita ikut bau.
Mungkin tidak langsung.
Tapi pasti ada bekasnya.
Sendiri Bisa Lebih Selamat
Ada orang bertahan dalam pergaulan rusak hanya karena takut kesepian.
Padahal tidak semua keramaian menyelamatkan.
Ada tongkrongan yang penuh tawa, tapi hati pulang dalam keadaan kosong.
Ada grup yang ramai, tapi isinya hanya hinaan, pamer, maksiat, dan ghibah.
Ada pesta yang bising, tapi jiwa merasa asing.
Itu bukan persahabatan.
Itu keramaian yang sunyi.
Dalam keadaan seperti itu, sendiri bisa lebih baik.
Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Menyendiri lebih baik daripada duduk bersama teman yang buruk, dan duduk bersama teman yang saleh lebih baik daripada menyendiri.”
Ini nasihat yang adil.
Islam tidak memuja kesendirian.
Islam juga tidak memuja keramaian.
Islam menjaga keselamatan hati.
Kalau ada teman saleh, dekati.
Kalau yang ada hanya lingkaran rusak, menjauh dulu lebih aman.
Bumi Allah luas.
Komunitas baik masih ada.
Orang saleh tidak punah.
Mungkin kita hanya belum mencarinya dengan sungguh-sungguh.
Jangan takut kehilangan teman toxic.
Takutlah kehilangan diri sendiri.
Kesepian Tidak Selalu Buruk
Kesepian bukan selalu karena tidak ada orang.
Kadang kita justru merasa paling sepi saat duduk di tengah banyak orang.
Kenapa?
Karena hati tidak menemukan frekuensi yang sama.
Mereka tertawa pada dosa yang membuat kita takut.
Mereka bangga pada hal yang membuat kita malu kepada Allah.
Mereka menjadikan ibadah sebagai bahan candaan.
Mereka menganggap menjaga diri sebagai kelemahan.
Di sana kita ramai.
Tapi sendirian.
Sebaliknya, ada orang yang tampak sendiri. Duduk dengan buku. Menyeduh kopi. Membaca Al-Qur’an. Berdzikir setelah sholat. Menulis catatan. Mengoreksi diri.
Secara fisik dia sendiri.
Tapi batinnya hidup.
Dia bersama Allah.
Dan orang yang bersama Allah tidak pernah benar-benar sendirian.
Uqbah dan Teman yang Menyeret ke Neraka
Dalam sirah dan kitab tafsir, ada kisah tentang Uqbah bin Abi Mu’aith dan Ubay bin Khalaf.
Uqbah pernah melunak terhadap dakwah Nabi ﷺ. Dia dekat dengan kebenaran. Hatinya hampir pulang.
Tapi dia punya teman akrab: Ubay bin Khalaf.
Ketika Ubay mendengar Uqbah mulai condong kepada Nabi, dia marah. Dia menekan Uqbah agar kembali memusuhi Rasulullah ﷺ.
Uqbah memilih gengsi.
Memilih pertemanan.
Memilih takut ditinggalkan manusia.
Lalu dia mundur dari kebenaran.
Pilihan itu menyeretnya pada kebinasaan.
Allah mengabadikan penyesalan orang dzolim dalam Al-Qur’an:
“Wahai, sekiranya dulu aku mengambil jalan bersama Rasul. Wahai, celaka aku! Sekiranya dulu aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku. Sungguh, dia telah menyesatkanku dari peringatan ketika peringatan itu telah datang kepadaku.” (QS. Al-Furqan: 27–29).
Ayat ini menampar.
Ada manusia yang kelak menggigit jari jemarinya karena salah memilih teman.
Bukan karena kurang pintar.
Bukan karena kurang gaul.
Tapi karena membuka hati untuk orang yang salah.
Audit Lingkaranmu
Mulai hari ini, audit pertemananmu.
Siapa yang membuatmu makin dekat kepada Allah?
Siapa yang membuatmu malu berbuat dosa?
Siapa yang mengingatkanmu sholat?
Siapa yang berani menegur saat kamu salah?
Pertahankan mereka.
Lalu tanya lagi.
Siapa yang membuatmu makin jauh dari Allah?
Siapa yang membuat dosa terasa biasa?
Siapa yang membuatmu meremehkan orang tua, pasangan, guru, atau agama?
Jaga jarak dari mereka.
Berbaik hatilah kepada semua orang.
Tapi jangan membuka pintu hati untuk sembarang orang.
Lebih baik punya satu teman yang mengajakmu ke surga daripada seribu teman yang memelukmu menuju neraka.
Lebih baik sendirian dalam taat daripada ramai-ramai dalam sesat.
Ternyata, kita memang harus pilih-pilih teman.
Bukan karena sombong.
Tapi karena akhirat terlalu mahal untuk dipertaruhkan di meja tongkrongan.