by

Dicari: Sekolah Calon Orang Tua Teladan

Sekolah Calon Pemimpin

Brosur sekolah hari ini sering terdengar seperti iklan masa depan.

“Sekolah calon pemimpin dunia.”

“Sekolah entrepreneur muda.”

“Sekolah pencetak generasi global.”

Bagus.

Siapa yang tidak ingin anaknya jadi pemimpin? Siapa yang tidak ingin anaknya mandiri, cerdas, punya usaha, punya pengaruh, dan punya masa depan?

Tidak ada yang salah.

Tapi ada satu pertanyaan yang nyaris tidak pernah muncul.

Di mana sekolah calon orang tua teladan?

Kita sibuk menyiapkan anak menjadi direktur, pejabat, pengusaha, dokter, insinyur, dan pemimpin.

Tapi kita lupa menyiapkan mereka menjadi ayah yang benar.

Menjadi ibu yang baik.

Padahal peradaban tidak lahir dari gedung parlemen.

Ia lahir dari rumah.

Dari meja makan.

Dari kamar tidur anak.

Dari cara ayah bicara kepada ibu.

Dari cara ibu menenangkan tangis anak.

Dari doa yang dibisikkan sebelum tidur.

Ambisi Besar yang Tidak Salah

Sekolah pemimpin diminati karena pemimpin memang punya kuasa besar.

Satu tanda tangan penguasa bisa mengubah hidup banyak orang. Bisa menurunkan harga beras. Bisa membuka lapangan kerja. Bisa menjaga keadilan. Bisa juga membuat rakyat menjerit.

Maka wajar jika orang tua ingin anaknya belajar memimpin.

Begitu juga sekolah entrepreneur.

Di zaman ini, pemilik modal sering punya pengaruh yang tidak kecil. Mereka membuka pabrik. Menentukan upah. Membentuk pasar. Membiayai media. Kadang ikut membisikkan arah kebijakan.

Maka wajar jika anak-anak diajari bisnis sejak dini.

Tetapi ada lubang besar.

Sekolah-sekolah itu banyak melatih manusia untuk menang di luar rumah.

Menang di panggung.

Menang di pasar.

Menang di jabatan.

Sementara dunia di dalam rumah sering dibiarkan tanpa latihan.

Anak bisa belajar memimpin rapat, tetapi tidak belajar meminta maaf kepada pasangan.

Anak bisa belajar membuat proposal bisnis, tetapi tidak belajar mendengar tangis anaknya sendiri.

Anak bisa belajar public speaking, tetapi gagap saat harus bicara lembut kepada keluarganya.

Inilah celahnya.

Kita mencetak manusia untuk bersinar di luar.

Tapi gelap di rumah sendiri.

Profesi Terbesar Tanpa Sekolah

Untuk menjadi dokter, orang harus sekolah bertahun-tahun.

Untuk menjadi pilot, ada latihan, ujian, dan sertifikat.

Untuk menjadi akuntan, ada standar.

Untuk mengendarai mobil saja, orang diminta punya SIM.

Tapi untuk menjadi orang tua?

Sering kali cukup nekat.

Menikah.

Punya anak.

Lalu mengalir.

Kalau baik, alhamdulillah.

Kalau buruk, anak yang menanggung akibatnya.

Padahal menjadi orang tua adalah tugas besar. Mungkin lebih besar daripada banyak jabatan yang kita banggakan.

Orang tua tidak hanya membesarkan tubuh anak.

Orang tua membentuk cara anak melihat Allah, melihat dirinya, melihat manusia, dan melihat kehidupan.

Keluarga adalah laboratorium peradaban.

Dari rumah lahir pemimpin yang adil.

Dari rumah lahir pedagang yang jujur.

Dari rumah lahir guru yang sabar.

Dari rumah juga bisa lahir manusia kasar, haus kuasa, dan tidak tahu malu.

Maka negara muslim tidak cukup hanya punya sekolah sains, sekolah bisnis, dan sekolah kepemimpinan.

Negara muslim harus punya sekolah calon orang tua.

Atau setidaknya kurikulum menjadi ayah dan ibu.

Bukan teori kosong.

Tapi latihan hidup.

Negara Kaya Bisa Miskin Rumah

Lihat dunia modern.

Ada negara yang ekonominya kuat. Gedungnya tinggi. Teknologinya maju. Militernya besar. Pasarnya luas.

Tapi rumah-rumahnya retak.

Keluarga pecah. Anak-anak kesepian. Remaja mencari pelarian. Banyak orang takut menikah. Banyak pasangan takut punya anak. Sebagian bahkan menganggap keluarga sebagai beban, bukan amanah.

Amerika sering dipuji sebagai kekuatan dunia. Tetapi ia juga bergulat dengan krisis keluarga dan kesehatan mental.

Jepang dikenal disiplin dan maju. Tetapi ia menghadapi masalah serius: anak muda menjauh dari pernikahan, kelahiran turun, dan penduduk menua.

Lalu apa artinya negara menjadi superpower jika rumah-rumahnya kehilangan kengahatan?

Apa artinya ekonomi tumbuh jika anak-anak tumbuh tanpa pelukan?

Apa artinya bangsa kaya jika keluarga miskin kasih sayang?

Kemajuan yang melupakan keluarga hanya membangun istana di atas kaca.

Tampak megah.

Tapi retak dari dalam.

Kebesaran Islam Dimulai dari Rumah

Islam tidak memandang keluarga sebagai urusan sampingan.

Keluarga adalah amanah.

Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6).

Ayat ini tidak main-main.

Orang tua tidak hanya bertugas membayar SPP, membeli seragam, dan menyediakan makan.

Itu penting.

Tapi belum cukup.

Orang tua wajib menjaga iman anak.

Menjaga akhlaknya.

Menjaga arah hidupnya.

Nabi ﷺ bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)

Lalu Nabi ﷺ menyebut laki-laki sebagai pemimpin dalam keluarganya, dan wanita sebagai pemimpin di rumah suaminya.

Keduanya akan ditanya.

Jadi rumah bukan ruang bebas tanpa hisab.

Rumah adalah wilayah kepemimpinan.

Ayah adalah kepala madrasah.

Ibu adalah madrasatul ula, sekolah pertama bagi anak-anaknya.

Ulama sering berkata, “Ibu adalah madrasah. Jika engkau menyiapkannya, engkau menyiapkan bangsa yang baik akarnya.”

Itu bukan sekadar kalimat indah.

Itu peta peradaban.

Ibu Imam Syafii dan Sekolah Kehidupan

Lihat Imam Asy-Syafii.

Beliau lahir dalam keadaan yatim dan miskin di Gaza.

Tetapi ibunya, Fathimah binti Ubaidillah, tidak menyerah kepada keadaan.

Saat Asy-Syafii masih kecil, ibunya membawanya ke Makkah. Beliau ingin menjaga nasab anaknya. Beliau ingin anaknya tumbuh di lingkungan yang baik. Beliau mencarikan guru. Beliau mendidiknya dengan disiplin, doa, dan visi yang jauh.

Hari ini dunia mengenal Imam Asy-Syafii sebagai ulama besar.

Tetapi sebelum ada Imam Asy-Syafii yang mengajar umat, ada seorang ibu yang lebih dulu mengajar satu anak.

Sebelum ada kitab-kitab fikih, ada rumah yang menanamkan iman.

Sebelum ada nama besar, ada pengorbanan sunyi.

Inilah sekolah calon orang tua dalam bentuk paling nyata.

Tidak punya gedung.

Tidak punya brosur.

Tidak punya slogan global.

Tapi lulusannya mengguncang sejarah.

Ibrohim dan Ismail: Teladan Sebelum Nasihat

Kisah Nabi Ibrohim dan Nabi Ismail ‘alaihimas salam juga memberi pelajaran besar.

Ketika Nabi Ibrohim mendapat perintah untuk menyembelih putranya, beliau tidak memperlakukan Ismail seperti benda. Beliau mengajak bicara.

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.”

Ismail menjawab:

“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Ismail tidak tiba-tiba menjadi anak yang taat.

Beliau tumbuh di bawah teladan ayah yang tunduk kepada Allah.

Anak yang kuat tidak lahir dari ceramah saja.

Anak yang kuat lahir dari rumah yang menjadikan Allah sebagai pusat kehidupan.

Kurikulum yang Harus Ada

Maka sudah saatnya negara muslim serius.

Anak-anak perlu belajar menjadi orang tua sejak dini, sesuai umur mereka.

Mereka perlu belajar adab menikah.

Tanggung jawab ayah.

Kemuliaan ibu.

Hak anak.

Cara mengelola emosi.

Cara berbicara dengan pasangan.

Cara mendidik tanpa menghina.

Cara memberi nafkah dengan halal.

Cara menjadikan rumah sebagai tempat pulang, bukan medan perang.

Ini bukan pelajaran tambahan.

Ini pelajaran pokok.

Sebab keluarga adalah pondasi bangsa.

Jika pondasinya retak, gedung setinggi apa pun akan miring.

Mulai dari Meja Makan

Memperbaiki negara tidak cukup dengan mengganti pejabat.

Tidak cukup dengan memperbaiki ekonomi.

Tidak cukup dengan mencetak pengusaha.

Semua itu penting.

Tapi belum menyentuh akar.

Akar bangsa adalah keluarga.

Dan keluarga membutuhkan orang tua yang terdidik.

Maka mari hentikan kegilaan ini: mendidik anak agar siap bersaing di pasar global, tetapi membiarkan mereka buta cara menjadi suami, istri, ayah, dan ibu.

Peradaban tidak akan bangkit dari presiden yang hebat jika anak-anak telantar di rumah.

Bangsa tidak akan kuat dari pengusaha kaya jika keluarganya hancur.

Kita butuh sekolah calon orang tua teladan.

Kalau negara belum membuatnya, mulailah dari rumah kita.

Dari meja makan.

Dari cara kita bicara.

Dari cara kita meminta maaf.

Dari cara kita memeluk anak.

Sebab dari sanalah masa depan bangsa dimulai.

Write a Comment

Comment