by

Terinspirasi atau Malah Depresi

Membaca Kisah Nyata

Kita membuka media sosial.

Niatnya cuma sebentar.

Tapi berselancar di layar tidak pernah benar-benar sebentar.

Muncul anak muda usia dua puluhan. Sudah jadi CEO. Sudah punya bisnis besar. Sudah keliling dunia. Sudah bicara di panggung. Sudah terlihat seperti manusia yang hidupnya rapi dari awal sampai akhir.

Kita geser lagi.

Muncul orang lain. Dulu gagal. Dulu diremehkan. Dulu hidupnya tidak dianggap. Baru berhasil saat rambut mulai memutih. Orang menyebutnya late bloomer. Bukti bahwa tidak ada kata terlambat.

Kita menatap layar.

Kadang hati menyala.

Kadang malah padam.

Aneh, bukan?

Kisah sukses yang sama bisa membuat seseorang bangkit, tapi membuat orang lain merasa makin kecil.

Di satu sisi, ia menjadi inspirasi.

Di sisi lain, ia berubah menjadi tekanan.

Bahkan depresi.

Masalahnya bukan pada kisah sukses itu. Masalahnya pada cara kita membacanya.

Kita sering lupa bahwa hidup bukan lomba lari dengan garis start yang sama. Ada orang lahir dengan bekal besar. Ada yang lahir dengan beban berat. Ada yang cepat menemukan jalan. Ada yang harus tersesat lama sebelum paham arah.

Islam tidak mewajibkan kita menjadi salinan orang lain.

Tapi Islam mewajibkan kita belajar.

Dari cara berpikir mereka. Dari ikhtiar mereka. Dari kesabaran mereka. Dari jatuh bangun mereka.

Bukan menyalin hidup mereka mentah-mentah.

Kisah Sukses Bisa Jadi Bahan Bakar

Kisah sukses bisa menjadi bahan bakar.

Saat melihat orang lain berhasil, kita bisa berkata, “Berarti pintu Allah masih terbuka.”

Itu sikap yang sehat.

Seorang muslim memang tidak boleh putus asa. Allah berfirman, “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53).

Jadi kalau ada orang jatuh lalu bangkit, belajarlah.

Kalau ada orang miskin lalu berhasil, ambil pelajarannya.

Kalau ada orang tua baru menemukan jalan hidupnya, jangan tertawa. Catat sabarnya.

Kalau ada anak muda mencapai sesuatu lebih awal, jangan sibuk mencibir. Lihat disiplinnya.

Tetapi ingat!

Belajar bukan berarti menukar hidup kita dengan hidupnya.

Kita boleh meniru kerja kerasnya. Tapi kita tidak harus punya hasil yang sama.

Kita boleh mempelajari strateginya. Tapi kita tidak harus sampai di waktu yang sama.

Kita boleh mengambil api semangatnya. Tapi jangan membakar diri sendiri dengan perbandingan.

Karena hidup bukan mesin fotokopi.

Saat Inspirasi Berubah Jadi Racun

Kisah sukses berubah menjadi racun saat kita hanya melihat hasil akhir.

Kita melihat panggungnya, bukan latihannya.

Kita melihat tepuk tangan, bukan malam-malam panjang ketika dia hampir menyerah.

Kita melihat saldo rekening, bukan air mata yang mungkin pernah jatuh diam-diam.

Lalu kita mulai berkata, “Kenapa aku tidak seperti dia?”

Kalimat itu tampak kecil.

Tapi bisa tumbuh menjadi keluhan panjang.

“Kenapa hidupku lambat?”

“Kenapa Allah memberi dia lebih banyak?”

“Kenapa aku begini-begini saja?”

Di titik itu, hati mulai rusak.

Hasad masuk pelan-pelan. Kufur nikmat ikut duduk di sebelahnya. Kita lupa melihat nikmat di tangan sendiri karena sibuk menghitung nikmat di tangan orang lain.

Nabi ﷺ memberi resep yang sangat tepat.

“Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atasmu, karena hal itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)

Ini bukan larangan untuk maju.

Ini cara agar hati tetap waras.

Lihat ke atas untuk belajar.

Lihat ke bawah untuk bersyukur.

Jangan terbalik.

Kalau hidup hanya dipakai melihat ke atas, leher kita sakit.

Hati juga.

Jangan Bandingkan Awalmu dengan Akhir Orang Lain

Ada kekonyolan yang sering kita lakukan.

Kita membandingkan bab pertama hidup kita dengan bab kedua puluh dari hidup orang lain.

Itu tidak adil.

Seperti membandingkan balita yang baru belajar berdiri dengan atlet dewasa yang sedang melewati garis finis.

Tentu kalah.

Tapi memang bukan tandingannya.

Setiap orang punya garis start sendiri. Setiap orang punya medan sendiri. Setiap orang punya ujian sendiri.

Ada yang kuat dalam bisnis.

Ada yang kuat dalam ilmu.

Ada yang kuat mengurus orang tua.

Ada yang kuat mendidik anak.

Ada yang tidak terkenal di bumi, tapi namanya disebut di langit karena doa-doanya.

Allah berfirman, “Katakanlah, setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing.” (QS. Al-Isra’: 84).

Ayat ini menenangkan.

Tidak semua orang harus berjalan di jalan yang sama.

Tidak semua orang harus sukses di umur yang sama.

Tidak semua orang harus punya panggung yang sama.

Maka jangan paksa diri menjadi orang lain.

Belajarlah dari orang lain. Tapi tetap pulang kepada takdirmu sendiri.

Zaid yang Muda, Amru yang Matang

Sejarah Islam memberi contoh yang indah.

Ada Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu.

Beliau muda, cerdas, dan cepat menangkap ilmu. Dalam usia belia, beliau dipercaya dekat dengan urusan wahyu. Beliau juga dikenal mampu mempelajari bahasa asing dalam waktu singkat atas arahan Nabi ﷺ. Kelak, beliau punya peran besar dalam pengumpulan Al-Qur’an.

Zaid seperti gambaran anak muda yang cepat mekar.

Seorang prodigy.

Lalu ada Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhu.

Beliau masuk Islam ketika usianya sudah matang. Tidak sejak awal seperti sahabat generasi pertama. Tapi setelah masuk Islam, beliau tidak sibuk menyesali keterlambatan.

Beliau bergerak.

Beliau memakai kecerdasan, strategi, dan keberaniannya untuk Islam. Beliau kemudian dikenal sebagai panglima penting dalam sejarah pembebasan Mesir.

Bayangkan jika Amru bin Ash duduk termenung dan berkata, “Aku kalah. Zaid jauh lebih muda. Aku sudah terlambat.”

Tentu sejarah akan kehilangan banyak hal.

Tapi Amru tidak begitu.

Ia tidak meniru jalan Zaid.

Ia menjalani jalannya sendiri.

Dan keduanya mulia.

Dari Hasad Menjadi Ghibthah

Islam melarang hasad.

Hasad adalah ingin nikmat orang lain hilang.

Tapi Islam membolehkan ghibthah. Yaitu ingin punya kebaikan seperti orang lain, tanpa membenci nikmat yang Allah berikan kepadanya.

Ini penting.

Saat melihat orang saleh rajin ibadah, jangan dengki. Berdoalah agar kita juga diberi taufik.

Saat melihat orang sukses karena jujur dan tekun, jangan benci. Pelajari caranya.

Saat melihat teman lebih dulu sampai, jangan rusak hati sendiri.

Mungkin dia memang mekar lebih awal.

Bukan berarti musim kita batal.

Ulama sering mengingatkan bahwa nilai manusia bukan pada cepatnya dia sampai, tetapi pada benarnya arah yang dia tempuh.

Maka tanyakan kepada diri sendiri.

Apakah hari ini aku lebih baik dari kemarin?

Apakah dosaku berkurang?

Apakah ikhtiarku bertambah?

Apakah aku makin jujur?

Apakah aku makin dekat kepada Allah?

Pertanyaan-pertanyaan itu lebih sehat daripada bertanya, “Kenapa aku tidak seperti dia?”

Mekarlah pada Musimmu

Kisah sukses orang lain adalah rambu.

Bukan cambuk.

Ia menunjukkan bahwa puncak bisa dicapai. Tapi ia tidak memerintahkan semua orang mendaki dengan cara yang sama, umur yang sama, dan bekal yang sama.

Jadi ambil pelajaran.

Buang perbandingan yang merusak.

Belajarlah dari yang muda tanpa merasa hina.

Belajarlah dari yang tua tanpa merasa terlambat.

Belajarlah dari orang sukses tanpa harus menjadi salinannya.

Jalani takdirmu dengan ritme yang Allah tetapkan. Perbaiki cara berpikir. Kuatkan usaha. Perbanyak doa. Jaga hati agar tidak busuk oleh hasad.

Tidak perlu layu hanya karena bunga orang lain mekar lebih dulu.

Setiap benih punya musim.

Tugas kita menyiramnya dengan iman, doa, dan ikhtiar.

Di hadapan Allah, yang paling mulia bukan yang paling cepat sukses.

Yang paling mulia adalah yang paling bertakwa.

Write a Comment

Comment