by

Menyembelih Ego & Masjid Al-Aqsho Bukan Anak Tiri

Tidak Sekadar Menyembelih

Takbir naik ke langit.

Dari masjid. Dari musholla. Dari rumah-rumah orang beriman. Anak-anak memakai baju terbaik. Para ayah menuntun hewan qurban. Para ibu menyiapkan dapur. Panitia sibuk. Pisau diasah. Daging dibagi.

Hari raya datang.

Tapi Idul Adha bukan cuma soal kambing, sapi, dan sate.

Idul Adha datang membawa pertanyaan yang lebih tajam daripada pisau:

Apa yang sebenarnya harus kita sembelih?

Jika Idul Fitri kemarin menjadi momen pulang seorang pendosa menjadi hamba yang taat, maka Idul Adha seharusnya menjadi momen pulang umat yang tercerai menjadi umat yang bersatu.

Idul Fitri membenahi diri.

Idul Adha membenahi umat.

Dari “aku” menuju “kita”.

Dari ego menuju ukhuwah.

Dari ritual menuju perjuangan.

Dari Kesalehan Pribadi ke Kesalehan Umat

Ramadhan mendidik kita secara pribadi.

Kita menahan lapar. Menahan marah. Menahan lisan. Menahan diri dari yang halal agar lebih kuat meninggalkan yang haram. Lalu Idul Fitri datang, dan kita berharap menjadi manusia yang lebih bersih.

Tapi Islam tidak berhenti pada kesalehan pribadi.

Seorang Muslim tidak cukup hanya baik sendirian.

Dia juga harus peduli pada umatnya.

Di sinilah Idul Adha berbicara. Haji mengumpulkan jutaan manusia dari berbagai negeri. Warna kulit berbeda. Bahasa berbeda. Jabatan hilang. Status runtuh. Semua memakai ihrom. Semua berdiri sebagai budak-Nya Tuhan.

Tidak ada presiden di depan Allah.

Tidak ada orang kaya di depan Allah.

Tidak ada suku paling mulia di depan Allah.

Yang ada hanya takwa.

Maka Idul Adha adalah latihan besar untuk mengingatkan kita bahwa umat ini satu tubuh. Jika satu bagian terluka, bagian lain tidak boleh tidur nyenyak seolah tidak terjadi apa-apa.

Dan hari ini, bagian tubuh umat itu sedang berdarah di Palestina.

Menyembelih Ego Pemimpin dan Ulama

Hewan qurban memang disembelih.

Tapi jangan berhenti di sana.

Ada yang lebih sulit disembelih: ego.

Ego pemimpin.

Ego negara.

Ego partai.

Ego kelompok.

Ego mazhab.

Ego jabatan.

Ego yang membuat umat Islam besar jumlahnya, tapi kecil pengaruhnya.

Kita punya banyak negeri Muslim. Punya banyak ulama. Punya banyak mimbar. Punya kekayaan. Punya sejarah. Punya tentara. Tapi sering kalah oleh kepentingan sendiri.

Satu bicara diplomasi, tapi takut kehilangan kursi.

Satu bicara ukhuwah, tapi sibuk memukul kelompok lain.

Satu bicara Gaza, tapi hanya saat kamera menyala.

Ini menyakitkan.

Tapi perlu dikatakan.

Para pemimpin negeri Muslim perlu duduk satu meja. Bukan untuk foto. Bukan untuk pidato. Bukan untuk mengulang kalimat yang sudah lelah didengar rakyat.

Duduklah untuk menyatukan sikap.

Para ulama juga perlu menjadi jembatan, bukan bara baru. Perbedaan fikih tidak boleh lebih besar daripada darah saudara kita. Khilafiyah tidak boleh mengalahkan kewajiban membela yang didzolimi.

Sebab umat ini tidak akan menang kalau pemimpinnya sibuk menyelamatkan wajah masing-masing.

Tiga Masjid Suci, Satu Cinta

Idul Adha selalu membuat hati rindu kepada Tanah Haram.

Siapa Muslim yang tidak ingin melihat Ka’bah?

Siapa yang tidak ingin menangis di Masjidil Haram?

Siapa yang tidak ingin memberi salam kepada Rasulullah ﷺ di Madinah?

Kerinduan itu benar.

Kerinduan itu mulia.

Tapi cinta kita tidak boleh pincang.

Rasulullah ﷺ menyebut tiga masjid yang layak dituju secara khusus: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al-Aqsho.

Tiga.

Bukan dua.

Makkah, Madinah, dan Al-Aqsho adalah segitiga cinta umat Islam. Jika satu dilupakan, cinta kita terluka.

Maka kita perlu bertanya kepada diri sendiri.

Mengapa air mata kita mudah jatuh saat menyebut Makkah dan Madinah, tapi hati kita sering dingin saat mendengar kabar Al-Aqsho?

Mengapa kita ingin sekali ke Tanah Haram, tapi biasa saja ketika Al-Aqsho dinodai?

MengapaAl-Aqsho terasa jauh, seolah itu hanya urusan orang Arab?

Padahal Al-Aqsho adalah kiblat pertama.

Al-Aqsho adalah tempat Isro’ Rasulullah ﷺ.

Al-Aqsho adalah gerbang peristiwa Mikroj.

Al-Aqsho bukan masjid pinggiran.

Al-Aqsho ada di jantung akidah kita.

Al-Aqsho Bukan Anak Tiri

Hari ini Al-Aqsha masih berada dalam penjajahan teroris zionis israel.

Ini bukan kebencian kepada yahudi sebagai agama atau etnis. Ini penolakan terhadap penjajahan, perampasan, kekerasan, dan penghinaan terhadap tanah suci umat Islam.

Jangan kaburkan masalahnya.

Al-Aqsho bukan masjid biasa.

Palestina bukan sekadar konflik politik.

Dan penderitaan saudara kita bukan tontonan musiman.

Kita sering bergerak saat isu viral. Berdoa saat video menyebar. Berdonasi saat gambar berdarah lewat di layar. Setelah itu lupa lagi. Kembali sibuk. Kembali dingin.

Padahal Al-Aqsho tidak butuh cinta musiman.

Al-Aqsho butuh kesetiaan.

Doa yang istiqomah.

Infak yang istiqomah.

Edukasi yang istiqomah.

Tekanan diplomasi yang istiqomah.

Kesadaran yang diwariskan dari rumah ke rumah.

Ajarkan kepada anak-anak kita bahwa masjid suci umat Islam ada tiga. Jangan biarkan mereka hafal nama klub sepakbola Eropa, tapi asing dengan Al-Aqsho. Jangan biarkan mereka tahu tokoh kartun, tapi tidak tahu kiblat pertama umat Islam.

Ceritakan Isro’ Mikroj bukan hanya sebagai kisah langit.

Ceritakan juga sebagai ikatan bumi.

Bahwa ada tanah bernama Baitul Maqdis yang tidak boleh hilang dari hati seorang Muslim.

Belajar dari Sholahuddin

Kita sering menyebut Sholahuddin Al-Ayyubi.

Namanya indah di mimbar. Gagah di poster. Mudah dijadikan contoh. Tapi kita sering lupa harga yang harus dibayar sebelum Baitul Maqdis dibebaskan.

Sholahuddin tidak muncul dari umat yang manja.

Dia lahir dari proses panjang. Dari ilmu. Dari disiplin. Dari persatuan. Dari pemimpin yang tidak menjadikan kursi sebagai tuhan kecil.

Pembebasan Islamic Yerusalem pada tahun 1187 bukan hanya kisah pedang. Itu kisah umat yang kembali punya arah.

Maka jangan hanya menunggu Sholahuddin baru.

Tanyakan dulu:

Apakah kita sedang menjadi umat yang layak melahirkannya?

Apakah rumah kita sudah mengenalkan Al-Aqsho kepada anak-anak?

Apakah mimbar kita cukup sering menyebut luka Gaza?

Apakah pemimpin kita cukup berani membela yang didzolimi?

Apakah kita sendiri cukup serius, atau hanya ramai saat medsos ramai?

Pertanyaan ini pahit.

Tapi kadang yang pahit justru menyelamatkan.

Jangan Jadikan Al-Aqsho Masjid Biasa

Al-Aqsho bukan anak tiri.

Jangan tempatkan dia di sudut ingatan.

Jangan sebut dia hanya saat perang memuncak.

Jangan jadikan dia isu sesaat.

Al-Aqsho harus hidup dalam doa kita, dalam infak kita, dalam obrolan keluarga kita, dalam pendidikan anak-anak kita, dalam sikap politik kita, dan dalam kesadaran umat kita.

Bukan berarti semua orang harus berangkat ke Palestina.

Tapi semua orang bisa mengambil bagian.

Ada yang berdonasi.

Ada yang menulis.

Ada yang mengajar.

Ada yang mendoakan.

Ada yang menekan lewat jalur diplomasi.

Ada yang mengedukasi anak-anak.

Ada yang menjaga agar isu ini tidak mati.

Kecil?

Mungkin.

Tapi umat besar selalu dibangun dari kesetiaan kecil yang tidak berhenti.

Pisau Itu Harus Mengarah ke Ego Kita

Idul Adha kali ini jangan lewat begitu saja.

Jangan selesai di pembagian daging.

Jangan selesai di foto panitia.

Jangan selesai di ucapan “taqobbalallohu minna wa minkum”.

Sembelihlah hewan qurban.

Tapi jangan berhenti di sana.

Sembelih juga ego yang membuat umat ini tercerai.

Sembelih ego pemimpin yang takut kehilangan kursi.

Sembelih ego ulama yang sibuk memenangkan kelompok sendiri.

Sembelih ego kita yang mudah menangis untuk urusan pribadi, tapi dingin terhadap luka Al-Aqsho.

Karena pembebasan Al-Aqsho tidak akan lahir dari umat yang sibuk menyelamatkan kepentingannya masing-masing.

Idul Adha kali ini, mari pastikan pisau qurban kita tidak hanya memotong leher hewan.

Tapi juga memotong ego yang mencerai-beraikan kita.

Agar suatu hari, dengan izin Allah, umat ini bisa berjalan bersama menuju Al-Aqsho.

Bukan sebagai tamu yang lupa pulang.

Tapi sebagai umat yang akhirnya ingat amanahnya.

Write a Comment

Comment