by

Daycare: Kesalahan Kepala Keluarga atau Kekalahan Negara?

Daycare: Who Cares?

Ada anak kecil yang bangun terlalu pagi.

Matanya masih berat. Tangannya masih mencari selimut. Dia belum paham kenapa hari harus dimulai dengan cepat. Tapi ibunya sudah sibuk. Ayahnya sudah siap berangkat kerja. Tas kecil sudah diisi baju ganti, botol susu, popok, dan bekal.

Lalu anak itu dibawa keluar rumah.

Bukan ke taman.

Bukan ke rumah nenek.

Bukan ke masjid.

Ke daycare.

Mungkin tempatnya bersih. Mungkin pengasuhnya baik. Mungkin mainannya banyak. Mungkin tiap siang orang tua menerima foto anak sedang tersenyum. Lalu hati mereka sedikit tenang.

Tapi ada pertanyaan yang tidak ikut tenang.

Mengapa anak sekecil itu harus lebih lama bersama orang lain daripada bersama ibunya?

Dan pertanyaan berikutnya lebih tajam.

Daycare ini salah siapa?

Kepala keluarga yang gagal mencukupi nafkah?

Atau negara yang gagal membuat keluarga hidup layak?

Rumah Itu Madrasah Pertama

Dalam Islam, rumah bukan sekadar tempat pulang.

Rumah adalah madrasah pertama. Di sanalah anak belajar menyebut nama Allah. Di sanalah anak melihat adab. Di sanalah anak tahu bagaimana orang tua bicara, marah, sabar, meminta maaf, dan berdoa.

Anak tidak belajar hidup hanya dari nasihat.

Dia belajar dari suasana rumah.

Karena itu, mengasuh anak bukan pekerjaan kecil. Itu bukan kerja sambilan. Bukan tugas sisa setelah semua urusan selesai. Mengasuh anak adalah membentuk manusia.

Dan dalam pekerjaan besar itu, ibu punya tempat yang sangat penting.

Ibu bukan sekadar orang yang memasak.

Ibu bukan mesin cuci yang bisa bicara.

Ibu bukan perempuan yang “tidak kerja” hanya karena tidak punya slip gaji.

Ibu yang mengurus anak, melayani suami, menjaga rumah, dan merawat suasana keluarganya, dia sedang melakukan pekerjaan besar. Hanya saja, zaman sering tidak mau mengakuinya.

Yang punya jabatan dianggap berhasil.

Yang punya gaji dianggap produktif.

Yang di rumah dianggap biasa saja.

Padahal bisa jadi, perempuan yang tinggal di rumah itu sedang menjaga masa depan umat.

Nafkah Ada di Pundak Suami

Islam jelas dalam urusan nafkah.

Nafkah adalah tanggung jawab suami.

Bukan hadiah.

Bukan bantuan.

Bukan kebaikan hati.

Itu kewajiban.

Suami adalah qawwam bagi keluarganya. Dia pemimpin. Dia penanggung jawab. Dia orang pertama yang harus berpikir apakah beras cukup, apakah listrik terbayar, apakah anak bisa sekolah, apakah istri bisa hidup tenang.

Maka ketika istri terpaksa bekerja karena nafkah tidak cukup, suami harus berani bercermin.

Sudahkah dia benar-benar berjuang?

Sudahkah dia menutup pintu boros?

Sudahkah dia berhenti membeli gengsi?

Sudahkah dia mengurangi rokok, nongkrong, cicilan yang tidak perlu, dan kebiasaan yang menguras uang?

Sudahkah dia mencari tambahan yang halal?

Ini bukan soal menyalahkan laki-laki miskin. Tidak semua laki-laki miskin itu gagal. Ada suami yang sudah bekerja keras, tapi hidup tetap berat. Ada yang pulang malam dengan badan hancur, namun uang tetap habis untuk kebutuhan dasar.

Itu lain soal.

Yang jadi masalah adalah suami yang santai melihat istrinya ikut memikul beban, sementara dia sendiri tidak mau bertumbuh.

Kalau istri harus meninggalkan anak kecil di daycare karena suami malas, boros, dan tidak serius mencari nafkah, maka itu memang kegagalan kepala keluarga.

Pahit.

Tapi fakta.

Ibu Bekerja: Mau atau Terpaksa?

Kita juga harus adil.

Tidak semua ibu bekerja karena mengejar dunia. Tidak semua ibu bekerja karena ingin lepas dari rumah. Banyak ibu bekerja karena tidak punya pilihan.

Ada cicilan.

Ada biaya sekolah.

Ada orang tua yang sakit.

Ada harga beras, listrik, kontrakan, susu, dan obat yang terus naik.

Ada buku belanja yang angka-angkanya tidak ramah.

Banyak ibu berangkat kerja dengan hati pecah. Tubuhnya di kantor, pikirannya di anak. Setiap ponsel berbunyi, dia khawatir. Kalau anak demam, dia merasa bersalah. Kalau pulang malam, dia memeluk anak seperti orang meminta maaf.

Dia tidak selalu memilih hidup seperti itu.

Kadang dia hanya bertahan.

Maka jangan mudah menuduh ibu.

Yang perlu kita bedakan adalah ini: ibu bekerja karena pilihan, atau ibu bekerja karena terpaksa.

Kalau itu pilihan, keluarga bisa membicarakannya dengan tenang.

Tapi kalau itu keterpaksaan, berarti ada luka yang lebih besar.

Daycare Bukan Musuh

Daycare tidak selalu buruk.

Ada daycare yang aman. Ada pengasuh yang sabar. Ada tempat yang membantu keluarga dalam keadaan sulit. Bagi sebagian orang tua, daycare menjadi jalan keluar saat tidak ada nenek, tidak ada saudara, tidak ada tetangga yang bisa dipercaya.

Jadi masalahnya bukan sekadar daycare.

Masalahnya adalah ketika daycare menjadi tanda bahwa keluarga makin kehilangan waktu.

Anak lebih lama di luar rumah.

Ibu lebih lama di tempat kerja.

Ayah pulang dengan badan lelah.

Rumah tinggal jadi tempat tidur.

Daycare bisa membantu, tetapi dia tidak boleh menjadi pengganti rumah. Dia seperti obat penurun panas. Berguna, tapi bukan jawaban akhir.

Kalau panasnya datang terus, jangan hanya bangga punya obat.

Cari penyakitnya.

Negara Juga Harus Bercermin

Dalam Islam, pemimpin adalah penjaga.

Dan setiap penjaga akan dimintai pertanggungjawaban.

Maka negara tidak boleh hanya hadir saat menarik pajak, membuat aturan, dan memasang slogan tentang keluarga bahagia. Negara harus hadir dalam urusan yang lebih nyata: apakah rakyat bisa hidup layak?

Apa artinya keluarga sejahtera kalau satu gaji tidak cukup untuk hidup sederhana?

Apa artinya perlindungan anak kalau orang tua tidak punya cukup waktu untuk mengasuh anaknya sendiri?

Apa artinya generasi emas kalau ayah dan ibu dipaksa bekerja sampai habis, lalu anak-anak diasuh oleh sistem yang juga kelelahan?

Negara gagal ketika upah tidak cukup untuk kebutuhan dasar.

Negara gagal ketika pendidikan menjadi beban yang menakutkan.

Negara gagal ketika kesehatan bisa membuat keluarga jatuh miskin.

Negara gagal ketika keluarga baik-baik harus menitipkan anak bukan karena ingin, tetapi karena terdesak.

Keluarga adalah akar bangsa.

Kalau akarnya diperas terus, jangan berharap daunnya tetap hijau.

Generasi X Mengerti Luka Ini

Generasi X tahu bedanya.

Masa lalu tidak selalu mudah. Banyak rumah sederhana. Banyak lauk seadanya. Banyak anak memakai baju warisan kakaknya. Tidak semua hidup enak.

Tapi ada satu hal yang masih sering tersisa: waktu di rumah.

Anak pulang sekolah, ada orang di rumah.

Anak terjatuh, ada yang mengangkat.

Anak lapar, ada yang menyuapi.

Anak salah, ada yang menegur.

Sekarang hidup terlihat lebih maju. Ada aplikasi. Ada CCTV daycare. Ada laporan perkembangan anak. Ada foto anak sedang bermain. Semua tampak rapi.

Tapi anak tidak hanya butuh laporan.

Anak butuh wajah ibunya.

Anak butuh suara ayahnya.

Anak butuh rumah yang tidak selalu terburu-buru.

Masa kecil tidak bisa diulang.

Sekali lewat, selesai.

Saatnya Menata Ulang

Maka pertanyaan tentang daycare seharusnya membawa kita pulang.

Suami perlu menata ulang tanggung jawabnya. Nafkah halal harus diperjuangkan. Malas harus dilawan. Gengsi harus dikubur. Kebiasaan boros harus dihentikan.

Seorang kepala keluarga tidak boleh tenang melihat istrinya lelah di dua medan: tempat kerja dan rumah.

Istri juga perlu dimuliakan dalam perannya. Kalau dia memilih fokus di rumah, jangan direndahkan. Jangan disebut tidak maju. Jangan dianggap tidak berguna.

Mengurus rumah bukan tanda kalah.

Mendidik anak bukan pekerjaan kecil.

Melayani keluarga bukan kehinaan.

Itu ibadah.

Masyarakat juga perlu berhenti menjadikan uang sebagai satu-satunya ukuran sukses. Dan negara perlu ingat bahwa kesejahteraan keluarga bukan hiasan pidato. Itu amanah.

Jangan Korbankan Anak

Daycare mungkin membantu sebagian keluarga.

Tapi jangan sampai daycare membuat kita berhenti bertanya.

Mengapa ibu harus meninggalkan bayi yang masih ingin dipeluk?

Mengapa ayah sudah bekerja, tapi tetap tidak mencukupi semuanya?

Mengapa keluarga makin sulit hidup dengan satu nafkah?

Mengapa negara sering bicara masa depan anak, tetapi membiarkan rumah-rumah kehilangan waktu?

Jika istri terpaksa bekerja dan anak harus dititipkan, mungkin ada dua luka di sana.

Pertama, suami belum mampu memberi nafkah yang cukup.

Kedua, negara belum mampu membuat rakyatnya sejahtera.

Bisa salah satu.

Bisa dua-duanya.

Dan di tengah semua itu, ada anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Dia hanya tahu ibunya pergi pagi. Ayahnya pulang lelah. Rumah ramai sebentar, lalu sepi lagi.

Padahal dalam Islam, anak adalah amanah.

Bukan beban.

Bukan sisipan jadwal.

Bukan korban dari ayah yang lalai dan negara yang abai.

Write a Comment

Comment