by

Kebangkitan Islam Dimulai dari Kasur

Karena Kasurnya

Ada umat yang kalah bukan karena musuhnya terlalu kuat. Mereka kalah karena kasurnya terlalu nyaman.

Tentu saja kasur bukan musuh. Tidur bukan dosa. Istirahat bukan aib. Allah sendiri berfirman dalam Al-Qur’an, “Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat.” Itu berarti tidur adalah nikmat. Tubuh punya hak. Mata punya batas. Tulang punya lelah.

Tetapi ada saatnya kasur berubah menjadi perangkap. Kasur tidak lagi menjadi tempat memulihkan tenaga. Kasur menjadi tempat menunda sholat, membunuh waktu, memanjakan tubuh, dan melupakan amanah. Di sana, kebangkitan Islam dimulai. Bukan dari panggung. Bukan dari pidato. Bukan dari seruan yang mengguncang langit. Tetapi dari seorang muslim yang bisa berkata kepada dirinya sendiri, “Cukup! Aku harus bangun.”

Menutup Malam Sebelum Malam Menelan Kita

Nabi ﷺ tidak menyukai tidur sebelum Isya dan obrolan setelah Isya. Ini bukan larangan terhadap semua percakapan malam. Ada begadang yang perlu. Menjaga anak sakit. Menuntut ilmu. Menjaga keamanan. Menyelesaikan urusan umat. Itu lain perkara.

Yang menjadi penyakit adalah begadang yang kosong.

Ngopi sampai larut tanpa arah. Nonton bola sampai Subuh hilang. Menonton film dari satu episode ke episode lain, lalu bangun dengan mata berat dan hati kusam. Menggeser-geser layar ponsel sampai tidak sadar bahwa malam sudah habis.

Kita sering berkata ingin membangun umat. Tetapi malam kita habis untuk hal yang tidak membangun apa-apa. Kita ingin anak-anak menjadi generasi kuat, tetapi ayahnya kalah oleh pertandingan bola. Kita ingin rumah penuh berkah, tetapi penghuninya bangun kesiangan dan memulai pagi dengan marah.

Maka kebangkitan pertama adalah menutup malam. Tidur lebih awal. Bukan karena kita lemah. Tetapi karena kita ingin kuat saat Allah memanggil.

Isya dan Subuh: Ujian Lelaki Baligh

Bagi lelaki muslim yang baligh, kasur punya dua medan perang besar: Isya dan Subuh.

Isya menguji sisa tenaga. Subuh menguji puncak kenyamanan.

Nabi ﷺ menyebut bahwa sholat yang paling berat bagi orang munafik adalah Isya dan Subuh. Ini kalimat yang membuat dada bergetar. Bukan karena kita boleh menuduh orang lain munafik. Tidak! Tetapi karena kita harus curiga kepada diri sendiri.

Mengapa Subuh begitu berat? Karena saat itu kasur sedang hangat. Udara masih diam. Mata masih ingin tertutup. Tubuh berkata, “sebentar lagi.” Tetapi adzan berkata, “hayya ‘alash-shalah.”

Seorang lelaki tidak cukup kuat hanya karena mampu bekerja. Tidak cukup kuat hanya karena mampu mengangkat beban. Tidak cukup kuat hanya karena lantang bicara agama. Dia harus kuat bangun ketika Allah memanggil.

Masjid adalah sekolah kedisiplinan. Di sana seorang lelaki belajar datang tepat waktu, berdiri dalam shof, tunduk kepada imam, dan menahan egonya. Jika dia terus kalah oleh kasur, ada yang harus dia periksa: jadwalnya, makan malamnya, gadget-nya, pergaulannya, dan imannya.

Sepertiga Malam dan Orang-Orang yang Bangun

Ada manusia yang meninggalkan kasur bukan karena insomnia. Dia bangun karena rindu.

Allah memuji orang-orang yang lambungnya jauh dari tempat tidur. Mereka berdoa kepada Robb mereka dengan takut dan harap. Inilah tahajud. Pesta sunyi bagi hati.

Tidak ada kamera. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada komentar. Hanya air wudhu, dua rokaat, dan dosa-dosa yang kita bawa dalam diam.

Jangan menunggu mampu sholat panjang. Mulailah dari dua rokaat. Mulailah dari bangun sepuluh menit sebelum Subuh. Jika takut tidak bangun, kerjakan witir sebelum tidur. Allah tidak meminta kita langsung menjadi ahli ibadah. Allah ingin melihat kejujuran langkah pertama.

Al-Hasan Al-Bashri pernah mengingatkan bahwa dosa dapat menghalangi seseorang dari qiyamullail. Maka masalah bangun malam bukan hanya alarm. Masalahnya juga hati. Barangkali bukan jam kita yang rusak. Barangkali jiwa kita terlalu lama kenyang oleh maksiat kecil yang kita anggap biasa.

Malam untuk Muroja’ah, Membaca, dan Menulis

Tidak semua amal malam berbentuk sholat. Setelah hak tubuh ditunaikan, malam bisa menjadi ladang ilmu.

Ada orang yang bangun untuk muroja’ah hafalan Al-Qur’an. Ada yang membaca buku. Ada yang menulis. Ada yang menyusun rencana dakwah. Ada yang muhasabah mengoreksi dirinya. Ada yang diam-diam mendoakan murid, anak, istri, suami, orang tua, dan umat Islam.

Peradaban tidak lahir dari kepala yang kosong. Peradaban lahir dari malam-malam yang bermakna.

Umat yang malas membaca akan mudah ditipu. Umat yang tidak menulis akan mudah dilupakan. Umat yang tidak menjaga hafalan akan kehilangan warisan. Maka meninggalkan kasur untuk ilmu adalah bagian dari kebangkitan. Tidak ramai. Tidak viral. Tetapi itu menumbuhkan akar.

Suami yang Tidak Egois di Ranjang

Kebangkitan umat juga dimulai dari rumah. Dan rumah yang sehat tidak lahir dari suami yang hanya tampak sholih di luar, tetapi egois di dalam kamar.

Allah menjadikan pernikahan sebagai tempat sakinah, mawaddah, dan rohmah. Maka ranjang suami-istri bukan sekadar tempat melampiaskan hasrat. Itu tempat menjaga kehormatan, menumbuhkan cinta, dan melahirkan keturunan.

Nabi ﷺ mengajarkan bahwa hubungan suami-istri yang halal bernilai sedekah. Ini indah. Sesuatu yang sering dianggap urusan pribadi ternyata bisa menjadi ibadah jika dilakukan dengan niat, adab, dan tanggung jawab.

Suami harus belajar. Dia tidak boleh kasar. Tidak boleh tergesa-gesa. Tidak boleh menjadikan istri sekadar alat untuk memenuhi nafsunya. Istri punya hak biologis. Istri punya rasa. Istri punya kebutuhan untuk dimengerti. Kepuasan istri bukan tema cabul. Dalam Islam, itu bagian dari ihsan dalam pernikahan.

Ibnu Qudamah menjelaskan bahwa hubungan biologis termasuk hak istri yang wajib diperhatikan suami selama tidak ada uzur. Ibnu Taymiyyah juga menegaskan bahwa suami wajib memenuhi kebutuhan istrinya sesuai kemampuan dan tanpa mudhorot.

Anak yang banyak adalah kebanggaan jika dibarengi iman, nafkah, pendidikan, dan kasih sayang. Banyak anak tanpa tanggung jawab bukan kebangkitan. Anak sholih, kuat, berilmu, dan terdidik adalah kebangkitan.

Kasur yang Rapi dan Amanah Kecil

Setelah bangun, lihat kasur kita.

Berantakan atau rapi?

Mungkin terdengar sepele. Tetapi hidup sering runtuh bukan karena orang gagal pada hal besar. Dia runtuh karena terbiasa meremehkan hal kecil.

Merapikan kasur bukan ukuran mutlak kesholihan. Ada orang sakit. Ada orang lelah. Ada keadaan khusus. Tetapi dalam keadaan normal, kasur yang rapi menunjukkan satu hal: seseorang mau bertanggung jawab atas wilayah kecil yang ada di bawah tangannya.

Nabi ﷺ bersabda bahwa setiap kita adalah pemimpin dan setiap kita akan dimintai pertanggungjawaban. Maka sebelum seseorang bicara tentang mengurus umat, dia perlu belajar mengurus dirinya. Sebelum bicara tentang memimpin banyak orang, dia perlu belajar menata selimutnya dan merapikan bantal-gulingnya.

Kasur yang rapi tidak otomatis membuat orang menjadi pemimpin besar. Tetapi orang yang tidak mau mengurus hal kecil sering gagal saat diberi amanah besar.

Salman dan Abu Darda’: Keseimbangan yang Dibenarkan Nabi

Ada kisah indah tentang Salman Al-Farisi dan Abu Darda’. Nabi ﷺ mempersaudarakan mereka berdua. Suatu hari Salman mengunjungi Abu Darda’ dan melihat keadaan keluarganya. Abu Darda’ sangat sibuk dengan ibadah sampai hak keluarganya kurang diperhatikan.

Malam tiba. Abu Darda’ ingin bangun sholat. Salman berkata, “Tidurlah.” Dia tidur. Lalu Abu Darda’ ingin bangun lagi. Salman berkata lagi, “Tidurlah.” Ketika akhir malam datang, barulah Salman membangunkannya. Mereka sholat bersama.

Setelah itu Salman berkata bahwa Robb punya hak, diri punya hak, dan keluarga punya hak. Maka berikan hak kepada setiap pemilik hak. Ketika hal ini disampaikan kepada Nabi ﷺ, beliau membenarkan Salman.

Lihatlah. Salman tidak melarang qiyamullail. Beliau hanya mengajarkan keseimbangan. Ibadah tidak boleh menjadi alasan untuk menelantarkan tubuh dan keluarga. Tidur tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan Allah. Keluarga tidak boleh menjadi korban dari kesalehan yang salah arah.

Dari Kasur ke Peradaban

Barangkali umat ini tidak membutuhkan pidato yang lebih mengguncang. Barangkali umat membutuhkan seoang muslim yang tidur tepat waktu, bangun ke masjid, menangis di sepertiga malam, membaca saat dunia lalai, menulis saat orang lain sibuk berkomentar, memuliakan istrinya, mendidik anaknya, dan senantiasa merapikan kasurnya.

Kebangkitan Islam dimulai saat seorang muslim tidak lagi diperbudak oleh kasurnya.

Dari kasur dia bangun menuju masjid.

Dari masjid dia pulang membangun rumah tangganya.

Dari rumah yang hidup, lahirlah anak-anak yang lebih siap memikul amanah.

Dan dari amanah kecil yang dijaga, semoga Allah menumbuhkan kembali umat yang besar.

Write a Comment

Comment