Hedonism, Escapism & Others

Hierarki kebutuhan ala pak Maslow mengajarkan bahwa kebutuhan manusia itu sandang, pangan, papan, dan ego. Masalah lahiriah saja. Seolah kita sedikit lebih baik dari bangsa hewan.

Tidak salah jika akhirnya lahir gaya hidup hedonisme. Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga katanya. (Surganya wewe gombel?).

Hedonisme punya saudara kembar yang bernama eskapisme. Eskapisme berasal dari kata “escape” yang bermakna kabur atau melarikan diri. Karena memang eskapisme itu gaya hidup pelarian. Lari dari kesumpekan dunia hedonisme. Kecanduan seks/onani/pornografi, kecanduan khomr/drugs/nikotin, kecanduan game, kecanduan gadget, kecanduan fashion, kecanduan movie, dan kecanduan membunuh adalah sekelumit pilihan pelarian.

Tapi karena eskapisme dan hedonisme lahir dari rahim liberalisme maka pelarian mereka seperti orang yang kabur dari kandang singa tapi malah masuk lubang buaya. Bunuh diri. Sangat wajar karena liberalisme tidak mau tahu dengan agama (Islam).

Selamanya mereka akan bingung meski memiliki guru spiritual yang bernama stoikisme. Filsafat kebajikan mereka berasal dari logika semata, bukan dari wahyu. Meski sedikit membantu tapi tidak akan menyelesaikan masalah.

Bahkan dunia pendidikan pun ikut tertular. Judulnya adalah pendidikan tapi prakteknya adalah sekolahisme. Pokoknya anak harus sekolah. Ijazah adalah harga mati. Ini sangat penting karena mereka kelak akan jadi roda penggerak ekonomi (baca: budak kapitalisme) sekaligus konsumennya.

Jadi? Don’t fix if it ain’t broken. But if it always broken, we should ditch it. FOREVER.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *