Belajar Mencintai Jokowi

Jokowi adalah representasi segala rezim lintas dimensi. Jangan baper ya bong, kobong. Oke, kita masuk ke materi. Adakah figur penguasa yang lebih lalim daripada Firaun? Adakah manusia yang lebih sombong dari Firaun yang berani mengklaim dirinya adalah tuhan? Adakah pemerintah yang lebih keji dari Firaun yang punya program genosida bayi laki-laki? Adakah presiden yang lebih opresif dari Firaun yang memperbudak massa tingkat nasional? Dengan kondisi full of kedzoliman itu apakah Nabi Musa dan Nabi Harun diperintahkan oleh Alloh untuk berkata kasar kepada Firaun? Tidak, malah sebaliknya. Mereka berdua diperintahkan untuk berkata lemah lembut sambil tetap mengatakan kebenaran tanpa tedeng aling-aling. So what’s the point, you may asked. Bahwa caci maki kepada penguasa tidak merubah keadaan, malah memperkeruh karena dia akan marah. Kita tetap harus menyampaikan nasehat dan koreksi dengan lemah lembut dan argumentatif. Ingat ucapan imam Ahmad bin Hambal bahwa seandainya beliau punya satu doa yang mustajab maka beliau akan mendoakan kebaikan kepada pemimpin? Karena baiknya pemimpin akan dirasakan oleh rakyat juga. Bahkan Imam Besar Habib Muhammad Rizieq Shihab akan menghilang dan tutup mulut selamanya seandainya Jokowi kembali ke UUD 1945 yang asli tanpa amandemen dan konsisten dengannya. Well, long live IB HRS, insya Alloh!

Salam Curhat Berkhasiat 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *